Beranda

Sebelum si Kanibal Hannibal

Tinggalkan komentar

“Reading is an exercise in empathy; an exercise in walking in someone else’s shoes for a while.” —Malorie Blackman

We meet again, Hannibal. Kali ini kita akan menjelajahi kehidupan si kanibal Hannibal ini sebelum dirinya keranjingan makan orang. Tadinya novel ini nyaris ditulis orang lain, bukan pengarang aslinya, yang telah menciptakan Red Dragon, The Silence of the Lambs dan Hannibal. Karena produser film yang telah menikmati franchise seri Hannibal tidak mau kehilangan pasar lalu sedikit ngambek dan “memaksa” Thomas Harris membuat sebuah prekuel.

Sebagian cerita di novel ini sebenarnya sudah sempat sekilas-sekilas dituturkan di karya yang telah beredar sebelumnya, Hannibal. Salah satunya tentang Mischa, adik Hannibal yang tewas semasa perang dunia kedua. Di prekuel ini kita akan melihat sejumlah “alasan” yang membuat sosok Hannibal yang tadinya lembut dan sangat menyayangi adiknya ini menjadi sesosok monster berdarah dingin.

Saya pun sudah menonton filmnya yang plotnya mengalami sejumlah perelevansian karena faktor durasi. Berlatar belakang perang dunia kedua, Hannibal sebenarnya berasal dari keluarga bangsawan. Tinggal di sebuah kastil warisan turun temurun dari wangsa Lecter. Sampai kemudian kastil mewah itu dirampas tentara Jerman dan berakhir menjadi sebuah panti asuhan. Hannibal kecil dan adiknya Mischa beserta ayah dan ibunya terpaksa mengungsi ke sebuah pondok di tepi hutan. Lantaran sebuah pesawat Jerman ambruk di dekat pondok tadi membuat keluarga Hannibal, ayah, ibu dan sejumlah pekerjanya tewas, meninggalkan Hannibal dan Mischa sendirian di dalam pondok.

Lantas, kisah horror dimulai ketika sekawanan tentara milisi gadungan menemukan pondok tempat tinggal Hannibal dan adiknya lalu menjadikannya markas. Di pondok inilah Hannibal kehilangan adik satu-satunya karena kawanan tentara gadungan tadi tak sekadar membunuh adiknya ini bahkan memangsanya karena musim dingin membuat orang-orang rakus itu sangat kelaparan dan tidak ada yang bisa dimakan selain dua tawanan kecil mereka. Aduhhh….

Hannibal Rising ini memungkaskan seri Hannibal Lecter dari rak buku saya.

#marimembacabuku

#generasisadarliterasi

Sebuah Pesta Kecil di Cannery Row

Tinggalkan komentar

“The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you’ll go.” —Dr. Seuss

Sejak Corona menghantam, rasanya jarang banget aktivitas membaca saya update. Padahal memang nggak banyak juga buku yang saya baca sepanjang masa-masa itu. Semenjak wfh, jatah waktu membaca malah justru terbatas. Sewaktu masih wfo di sela jam kerja saya pasti menyempatkan membaca barang 5 sampai 10 halaman. Begitu wfh, waktu senggang habis untuk cuci piring, nyuapin bocah, jemur baju dan sejenisnya. Barulah setelah semua penghuni terlelap saya mulai melahap halaman buku di sela kantuk. Akibatnya buku yang seharusnya bisa selesai dalam seminggu ini harus tuntas dalam waktu sebulan lebih, 40 hari, tepatnya.

Karya Steinbeck ini masih tetap menggelitik. Kisah di sebuah kota kecil dengan berbagai karakter manusia yang macam-macam saja kelakuannya. Mengingatkan saya pada Tortilla Flat yang pernah saya ulas sebelumnya. Pusat cerita sebenarnya berada pada diri Doc, seorang peneliti kemaritiman yang sehari-hari bekerja di sebuah laboratorium kelautan. Sikap Doc yang penolong membuat ia disukai di lingkungannya, serta cukup dihormati. Suatu ketika ada sebuah saudara bersaudara dari latar belakang keluarga pas-pasan yang hendak mengungkapkan terima kasih dengan membuat sebuah pesta kejutan. Alih-alih pesta itu menyenangkan Doc, karena ulah kawanan miskin yang lupa diri itu malah membuat segalanya jadi kacau. Hal itu membuat Doc geram, tentu saja. Kendati ia sempat menghajar Mack, si pencetus ide pesta kejutan tadi, toh sikap Doc tetap baik kepada saudara bersaudara tadi. Pada akhirnya seluruh kota pun menyelenggarakan sebuah pesta untuk Doc.

Novel ringkas ini diterjemahkan Eka Kurniawan. Lewat tangan Eka yang juga telah menciptakan kisah kelas dunia semacam Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, kisah ini menghasilkan penuturan yang khas dan cukup mengasyikan membacanya.

Yeah, setelah sempat skip tidak tersentuh hampir semingguan lamanya karena buku ini tiba-tiba saja terpaksa menginap di kolong sofa, akhirnya kelar juga saya menyesapnya…. layaknya sesapan segelas besar bir.

#marimembacabuku

#generasisadarliterasi

Training online Infografis

Tinggalkan komentar

Sudah tiga bulan Indonesia dihantam pandemi Covid 19. Hampir seluruh pekerja “dirumahkan”, work from home. Di masa WFH itu saya diminta membuat sebuat training online oleh bos saya. Topiknya tentang infografis. Sampai saat ini sudah berjalan dua dari empat sesi yang direncanakan.

Di sesi pertama, pekan lalu, saya membuat tugas kepada para peserta untuk menciptakan sebuah infografis mengenai personal interest mereka masing-masing. Saya pun ikut-ikutan mengerjakannya sekaligus menerapkan materi training yang saya sudah susun.

Karena saya hobi baca buku, maka saya pun bikin infografis tentang kebiasaan membaca buku tadi. Kebetulan saya punya akun goodreads. Jadi sebagai referensi tunggal, segala aktivitas saya di akun itu saya sadur menjadi sebuah infografis seperti ini.

Infographic about my personal reading habit, so peaople perhaps can get inspiration to optimized their reading activity.

Istirahat yang tenang, Nyong….

Tinggalkan komentar

Saya bukan fansnya. Lagu-lagu beliau pun saya tidak suka-suka banget karena memang not me. Tapi ada satu cerita menarik tentang beliau yang tak pernah saya lupa.

Pelangi Pujian entah kapan, di Gedung Adven. Kami sempat kecewa karena beliau tidak bisa hadir sebagai bintang tamu karena bertepatan dengan acara beliau di Yogya. Padahal nama beliau kami harapkan dapat mendongkrak penjualan tiket. Tapi puji Tuhan, konser amal tersebut tetap penuh karena pendukung acara lain tak kalah ciamik.

Namun di akhir acara, saya melihat beliau malah duduk di kursi paling belakang, turut menonton penampilan terakhir di atas panggung. Panitia awalnya tidak menyadarinya. Begitu ada anggota panitia yang tiba-tiba mengenalinya mereka pun langsung bersorak, dan mendampuknya untuk turut bernyanyi bersama pengisi acara lain. Suasana pun langsung super meriah. Beliau menyanyikan lagu Bila Roh Allah Ada di dalamku, kukan menyanyi sperti Daud menyanyi….”

That’s him.

#ripgf

#masih

Dokter Muda dan Sang Pendeta Tua

Tinggalkan komentar

Seorang dokter muda. Mungkin belum lama wisuda. Baru beberapa bulan menikah, barangkali istri tercinta sedang hamil muda. Negara memanggilnya sebagai tim medis dalam menangangi pasien-pasien covid-19. Ini masalah hidup dan mati. Dengan APD seadanya dia berjibaku menghadapi kemungkinan buruk dengan peralatan medis alakadarnya. Tapi anak muda kita ini percaya, Tuhan akan menyertainya melewati ini semua. Dengan langkah mantap ia menjalankan tugasnya dengan tulus dan senyum.

Seorang pendeta tua, mungkin sudah memimpin jemaat di mana-mana. Ia mengetahui dan mendengar pemerintah mengeluarkan arahan untuk setiap agama menjalankan ibadah di rumah karena virus merajalela dan korban di mana-mana. Namun, ia tak terpengaruh. Hanya kepada Allah, dan bukan pemerintah, ia harus patuh, pikirnya. Umat harus tetap ibadah di gedung gereja kendati ancaman terpapar virus itu ada di depan mata. Maka ketika jemaat lain beramai-ramai ibadah daring, ia tetap memerintahkan untuk ibadah tatap muka bagi jemaatnya. Ia percaya maut ada di tanganNya. Covid-19 bukan alasan untuk meninggalkan bangku gedung gereja.

Menurut Anda siapa yang lebih beriman? Si dokter muda yang minim pemahaman teologis, atau sang pendeta tua yang kenyang diktum-diktum teologi?

Pak Sem….

Tinggalkan komentar

Pas saya jadi dewan gp periode 2005-2010, kami memang jarang berkoordinasi langsung dengan beliau, saat itu ketum. Lebih sering dengan pak Rudy Ririhena dan bung Johan. Namun setiap kali ada rapat koordinasi sinodal bersama fungsionaris pada waktu itu, kami beberapa kali ngobrol ringan di sela rehat. Saat memimpin rapat terlebih ketika beliau memberi paparan, saya tak mengizinkan pikiran saya kelayapan kemana-mana. Paparannya cerdas namun tidak rumit, tetap renyah dicerna. Setiap materi paparannya selalu saya simpan. Sosoknya mengingatkan saya akan Don Vito Corleone, bos mafia rekaan Mario Puzo, yang suaranya agak serak dan dalam, namun justru itu mengangkat wibawanya.
Semalam, secarik pesan mampir ke whatsapp saya. Beliau dipanggil pulang oleh Sang Khalik. Saya hanya mendesah, “yahhhh….”
Malam ini saya menapaki langkah, menghaturkan segenggam salam duka kepada pihak keluarga. Sejumput takjub, saya haturkan, Pak Pendeta. Juga seikat hormat. Kami kehilangan sosok guru dan pelayan Tuhan yang tekun menetes-neteskan butir-butir sabda Tuhan demi kesegaran jiwa kami.

Edelweiss, edelweiss
Every morning you greet me
Small and white
Clean and bright
You look happy to meet me
Blossom of snow
May you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss, edelweiss
Bless my home-land forever….

Kisah Luka si Pasien Inggris

Tinggalkan komentar

“If you only read the books that everyone else is reading, you can only think what everyone else is thinking.”
― Haruki Murakami, Norwegian Wood

Saya baru tahu belakangan novel The English Patient ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Tak sengaja menemukannya di tokopedia, saat iseng mencari edisi bahasa Inggrisnya. Terbit tahun 2015 oleh PT Elex Media Komputindo, belum terlalu lama juga sebenarnya, namun sepertinya tidak saya temukan lagi di toko buku.

Kebetulan, terbersit gagasan untuk menyusun daftar bacaan novel-novel yang pernah diadaptasi ke layar lebar, yang pernah menyabet oscar, minimal pernah dinominasikan. Setelah usai melahap The Godfather, Ben Hur, The Silence of the Lambs, The Schindler’s List, The Pianist, Forest Gump, Q & A (Slumdog Millionaire) dan kini giliran The English Patient. Dan tentu masih ada dalam antrian The Revenant, Room, No Country For Old Men, Beautiful Mind, Life of Pi, Steve Jobs, The Accidental Billionaires (The Social Network) etc.

Membaca kisah asli dari sebuah karya film memang sudah menjadi ketertarikan saya. Medium layar lebar dan medium karya tulis tentunya memiliki cara penuturan yang berbeda. Dan saya berminat menelusuri kedua cara penuturan itu. Pada saat mengetahui sebuah film diangkat dari sebuah buku, terutama novel, ada kecenderungan bagi saya untuk turut mencari buku tersebut dan membacanya. Sebaliknya, ketika ada buku yang digadang-gadang akan diangkat ke layar lebar, saya pun buru-buru melahap bukunya terlebih dahulu, kalau bisa, sebelum menonton filmnya. Itu terjadi untuk tetralogi Laskar Pelangi dan 5 cm, juga tentu saja seri Harry Potter.

Ada satu pengalaman menarik. Suatu ketika saya pernah membaca The Girl On The Train, dan di tengah-tengah kegiatan membaca, saya malah menonton filmnya yang sudah bisa diunduh bluray-nya. Alhasil, saya tidak berminat lagi menyelesaikan novel yang digadang-gadang sebagai novel thriller debutan paling memukau pada saat itu.

#marimembacabuku

#generasisadarliterasi

Ciaaaaat!

Tinggalkan komentar

“The unread story is not a story; it is little black marks on wood pulp. The reader, reading it, makes it live: a live thing, a story.” —Ursula K. Le Guin

Bertahun lalu, rasanya, saya pernah membaca buku ini. Tak selesai. Barangkali karena formatnya yang setebal bantal jadi sulit ditenteng kemana-mana, bisa juga karena tak menyediakan waktu untuk menyelesaikannya. Sampai terbit buku kedua lantas, 8 tahun sesudahnya, terbit lagi buku ketiga dari lima buku yang direncanakan, saya pada akhirnya berniat membacanya lagi, dan bertekad menyelesaikan ketiga buku tadi tahun ini.

Cerita silat memang sudah menjadi salah satu kegemaran saya sejak SMP. Dulu saya mengikuti seri komik Si Buta Dari Goa Hantu dan Jaka Sembung. Seri Braja mulai dari Hantu Selaksa Racun, Setan Catur sampai Jodoh di Grojogan Sewu saya baca sampai tuntas. Begitu SMA, giliran seri Wiro Sableng saya gandrungi. Tapi, entah kenapa saya tidak terlalu menikmati Kho Ping Hoo, betapapun banyak rekan yang sangat merekomendasikannya. Mungkin karena latar belakang kisah dari nusantara terasa lebih dekat ketimbang kisah-kisah Kho Ping Hoo yang sebagian besar berkisah dari negeri jauh. Jadi, ketika mengetahui akhirnya Nagabumi yang asalnya adalah cerbung di koran Suara Merdeka dibukukan, tanpa ragu saya langsung mengoleksinya, sepuluh tahun lalu. Lalu buku yang kedua pun saya beli. Tinggal buku ketiga yang masih wishlist.
Karena formatnya yang setebal bantal tadi, rasanya tak mungkin saya membawanya kemana-mana dalam backpack saya yang sudah gendut. Saya akan membacanya di rumah sahaja. Setelah Gio lelap, tentu saja, atau saat anak itu sibuk dengan gadgetnya.
Karena sudah sekitar sepuluh tahun tersimpan dan jarang disentuh, membaca buku ini seolah menemukan kitab kuno dari masa ratusan tahun silam. Halamannya yang sudah kecoklatan disertai bercak-bercak yang bertebaran di mana-mana, membuat kesan kuno tadi semakin terasa. Bahkan sempat saya membayangkan ketika membuka halamannya, ada cahaya kebiruan yang menyeruak dari lembar demi lembar halamannya serupa membuka kitab pusaka dari seorang empu sakti mandraguna.

Ciaaaaat!

#marimembacabuku

#generasisadarliterasi

Hannibal: sebuah akhir

Tinggalkan komentar

“The reading of all good books is like conversation with the finest (people) of the past centuries.” – Descartes

Oke, di filmnya, Hannibal memang tidak seciamik The Silence of the Lambs. Bukan karena Jodie Foster digantikan oleh Juliane Moore, tapi lantaran alur ceritanya cenderung lamban dan memiliki subplot yang ruwet. Padahal dalam seri kali ini, terjadi perburuan monster paling keji yang tentunya menjanjikan suspense yang menegangkan. Sayangnya saat menonton filmnya saya malah mengantuk. Membaca kelanjutan The Silence of the Lambs ini, sebenarnya saya juga tidak mematok ekspektasi terlampau tinggi. Sekadar menyusuri kelanjutan kisah Starling vs. Lecter. Itu saja. Apalagi novel ini dikisahkan tujuh tahun setelah The Silence. Entah apa yang menarik dari kisah sedemikian.


Cukup lama juga saya menyelesaikan novel ini, 20 hari. Barangkali karena saya menyelingnya dengan beberapa bacaan lain. Bisa juga karena di awal-awal alur cerita cukup membosankan, terutama di bagian Florence, saat terjadi perburuan Dr. Lecter di Itali, yang hampir memakan sepertiga buku. Perburuan itu seakan terlalu berlarut-larut, walaupun pada akhir bagiannya, ketegangan semakin meningkat, saat puncaknya Dr. Lecter merobek perut Inspektur Pazzi, polisi Itali korup yang memburunya demi uang, menggantung tubuh polisi itu di sebuah gedung kuno, membuat seluruh isi perutnya keluar. Setelahnya, alur kemudian semakin cepat; persekongkolah Paul Kendler dan Mason Verger yang berakhir pada penghancuran karir Sterling serta penangkapan Dr. Lecter untuk diumpankan kepada babi-babi hutan lapar yang sengaja didatangkan dadi Sardinia, Itali, membetot perhatian saya. Pada bagian misi penyelamatan Lecter oleh Starling pun saya hampir tak melepaskan jemari saya dari lembar demi lembar halaman buku.

Sebetulnya novel ini dimaksudkan sebagai bagian penutup seri Hannibal. Sampai akhirnya atas tuntutan seorang produser film, Thomas Harris menambahnya lagi dengan sebuah prekuel, Hannibal Rising yang mengisahkan masa kecil Lecter dan perkembangan hidupnya sampai menjadi seorang pembunuh berantai, seorang penyantap manusia.

Dalam Hannibal ini pun ada sekilas-sekilas latar belakang kejiwaan psikopatnya yang berasal dari trauma menyangkut adik kecilnya, Mischa, membuat novel ini menjadi sebuah konklusi yang utuh atas sosok kanibal seorang Hannibal Lecter. Novel ini pun ditutup dengan ending yang elegan berisi perkembangan hubungannya dengan agen khusus Starling.

Cakep.

#marimembacabuku

#generasisadarliterasi

Aku Bermimpi Jadi Pilatus

Tinggalkan komentar

Pagi-pagi sekali, saya sudah mendapat pekerjaan yang sebenarnya bukan urusan saya. Segerombolan pemimpin Yahudi mendatangi saya dan meminta saya menghukum mati seseorang. Saya mengernyitkan dahi sejenak. Pekerjaan menghukum mati itu sebenarnya bukan hal yang patut membuat kening saya berkerut-kerut. Tapi, segerombolan Pemimpin Yahudi, mendatangi saya pagi-pagi, meminta saya menghukum mati seseorang. Pemimpin Yahudi menghukum mati? Ah, yang benar saja.
             Sambil terheran-heran, saya sempat menanggapi dengan dingin. “Kenapa tidak kalian saja yang menghukum mati dia, sesuai hukum yang kalian punya?” Jawab mereka, hukum mereka melarang menghukum mati seseorang.
            Dengan sedikit penasaran saya minta “seseorang” itu dibawa masuk. Tak lama, masuklah seorang pria berwajah kuyu (mungkin kurang tidur). Beberapa pertanyaan saya ajukan kepada orang ini. Tapi anehnya, setiap jawaban yang keluar dari mulutnya kadang membuat saya terkesiap. Dan sambil geleng-geleng kepala, saya berkata kepada pemimpin Yahudi, “saya tidak menemukan kesalahan apapun pada dirinya!”
170316155803-finding-jesus-david-gregory-pontius-pilate-stone-00002302
          Namun, para pemimpin Yahudi itu mendesak saya. Bahkan sempat menyinggung-nyinggung posisi saya dengan mengatakan, kalau saya tidak menghukum mati orang itu, saya dianggap telah berkhianat terhadap kaisar karena membiarkan seseorang menjadi “raja”. Wah, gawat ini. Kalau para petinggi Romawi sampai mendengar berita sepihak ditambah bumbu-bumbu penyedap, akan terjadi kesalahtafsiran, nih. Bisa-bisa saya benar-benar dianggap memberontak. Walau kenyataannya tidak seperti itu. Saya ini sangat loyal pada kaisar. Tapi kalau lawan-lawan politik saya memutarbalikkan fakta sedemikian rupa, bukan tidak mungkin posisi saya akan terancam. Wah, gawat ini!
          Ya, sudah, supaya mereka puas, saya panggil prajurit-prajurit saya untuk menyiksa orang itu. Masak, sih, setelah melihat orang tesebut berdarah-darah, mereka belum puas juga! Saya pun kembali ke dalam ruangan kerja saya, sementara para prajurit melaksanakan tugasnya. Ah, masih banyak paper works yang mesti saya selesaikan hari ini. Biar saja para pemimpin Yahudi itu saja yang menyaksikan penyiksaan itu.
          Sambil duduk di meja kerja saya, saya mendengar bunyi lecutan cemeti berkali-kali diselingi teriakan menyayat dari orang itu. Tapi, masa bodo amat. Toh, setelah melihat penyiksaan itu, mungkin pemimpin yahudi akan membatalkan tuntutan hukuman mati mereka. Sudahlah! Masih banyak yang perlu saya kerjakan!
          Setelah bunyi-bunyi cemeti itu tak terdengar lagi, hanya rintihan kecil serta dengusan napas yang terputus-putus yang sekali-sekali terdengar, saya pun keluar lagi. Di luar ruangan kerja saya, saya mendapati orang itu terkapar dengan tubuh berbasuh darah dan sobekan-sobekan daging bertebaran di sekujur tubuhnya. Sekilas masih terlihat tetesan-tetesan darah dari ujung cemeti yang digunakan prajurit saya. Dan… hei… ide siapa itu? Ada mahkota terbuat dari duri menancap di kepala orang itu. Ck… ck… ck… kreatif sekali prajurit saya itu…. Mungkin mereka sempat mengejeknya tadi.
          Saya pun kembali berdiri dan berbicara di depan para pemimpin yahudi dan sekumpulan orang, mungkin yahudi juga, yang menyemut di halaman kantor walikota. “Lihatlah manusia itu!” kata saya. “Saya tidak menemukan kesalahan apapun pada orang ini!”
          Di kerumunan itu malah terdengar teriakan, “Salibkan dia! Salibkan Dia!”
          Hah, salib? Waduh, nggak sembarangan hukuman itu harus ditimpakan. Hanya bandit-bandit kotor dan para pemberontak bandel yang patut mendapat hukuman itu! Apakah mereka tak tau itu? Dan, ah, masak sih orang seperti itu harus mati dengan cara seperti itu? Tapi demi mendengar teriakan para hadirin, saya pun berpikir keras! “Saya tidak mungkin menyalibkan ‘raja’mu!” Jawab saya dengan menekankan kata raja! Tapi jawab mereka, “Tidak ada raja lain bagi kami selain kaisar!”
          Waduh, terserahlah. Sambil meminta pelayan saya mengambil sebaskom air, sayapun mencuci tangan di hadapan para hadirin. “Saya tidak bertanggung jawab atas darah orang ini! Kalianlah yang menanggungnya!” Jawab saya dengan nada kesal sambil membasuh tangan saya di dalam baskom itu. Kemudian kembali ke ruangan kerja saya demi membuat sebuah surat keputusan berstempel kerajaan yang isinya menyatakan penghukuman mati atas orang itu. Tentunya dengan beberapa catatan khusus. Setelah itu, saya lemparkan surat itu di hadapan para pemimpin Yahudi itu.
          Terlintas senyum puas di bibir para pemimpin Yahudi itu, sekilas, ketika saya hendak membalikkan tubuh menuju ruangan kerja saya untuk meneruskan pekerjaan lainnya.
          Cukup lama saya terdiam di hadapan tumpukan pekerjaan di meja saya. Lalu waktu terus berjalan…. Melewati waktu makan siang, sisa risau itu tetap melekat dalam dada saya. Ah, makanan pun terasa getir, tak ada selera. Mendekati pukul tiga, mendadak saya rasakan guncangan pada tubuh saya. Wah, gempa bumi-kah ini? Langit gelap, dan guncangan itu semakin keras saya rasakan!
          “Woi, bangun, Mon! Udah jam berapa ini? Kerja gak luh! Bangun atau gua siram nih!”
          Wah, ternyata saya mimpi jadi Pilatus! Gempa itu rupanya ulah kakak saya yang mengguncang-guncangkan tubuh saya. Ah, gara-gara nonton The Passion of the Christ, sih! Untung saya gak bermimpi jadi Yudas!
=============
Saya tulis ulang di blog ini sebagai refleksi menjelang Jumat Agung. Ini tulisan sekitar tahun 2004 ketika film Passion of The Christ belum lama rilis. Saya sendiri menontonnya pertama kali dari DVD bajakan.

Misalkan Yesus di Guantanamo

Tinggalkan komentar

Nama lengkapku, Yehoshua bin Yosef. Kalian mengenalku dengan
panggilan Yesus. Hanya sedikit perbedaan lafal. Tak apa. Tak soal. Ayahku, Yosef atau Yusuf, memang tukang kayu. Tak terlalu terkenal. Biasa-biasa saja. Kadang aku membantunya. Tapi belakangan aku lebih dikenal sebagai seorang guru, tepatnya guru agama. Aku terkadang mengajarkan akhlak, bukan ilmu falak ataupun ilmu eksak. Tak ada yang salah sebenarnya dengan pekerjaanku. Tapi suatu ketika aku kena fitnah dan dihukum karena ajaran-ajaranku.

Suatu malam, ketika aku sedang berdoa, sepasukan tentara bersenjata lengkap menggiringku. Seorang muridku sempat melepaskan tembakan dengan pistolnya dan mengenai telinga salah seorang tentara itu. Aku jelas marah kepada muridku itu, kemudian mencoba mengobati telinga prajurit yang luka itu sebisaku. Kemudian mereka menutup kepalaku dengan kantong hitam, aku tak tahu hendak di bawa ke mana.

Jesus-in-guantanamo

Terik matahari siang menyengat sekali. Kepalaku masih ditutupi kain hitam. Lalu aku merasa aku digiring ke sebuah ruangan yang pengap oleh asap
rokok.

“Kau menghasut banyak orang! Kau bilang bisa menghancurkan Al-Aqsa dan membangunnya kembali dalam tiga hari? Dasar tukang kibul! Cuihhh!”

Aku disetrum lagi.

“Jadi kamu ini anak Allah?”

Buk! Sebuah bacagi meremukkan tulang rusukku.

“Kau ini anak tukang kayu, ngaku-ngaku anak Allah? Penipu!”

Cressss! Kali ini sebatang rokok mereka sundut ke kulit tanganku.

Entah berapa lama aku berada di kamar gelap ini. Sekujur tubuhku nyaris lumpuh dan remuk. Pergelangan tanganku perih karena tubuhku tergantung berjam-jam selama beberapa hari ini.

Kali ini mereka mendudukkanku di atas sebuah kursi kayu. Bau keringat apak menguar di sekelilingku. Tiba-tiba…. “Aaaaaarrrrrgggghhhhhh!” Jemari kakiku mereka tindih dengan salah satu kaki kursi yang diduduki seorang dari mereka. Jempol kakiku nyaris hancur.

“Masih juga mengaku sebagai anak Allah?”

“Aaaaaarrrrrggggghhhhh!”

=========================

Ini tulisan lama, postingan di milis GPIB. Saya tulis ulang di blog sebagai refleksi menjelang Jumat Agung.

What’s in Your Bag?

Tinggalkan komentar

Entah sejak kapan saya punya kebiasaan membawa “palugada” (apa lu mau gua ada) di dalam tas.  Seingat saya, semasa SMA dulu saya justru hanya bawa buku sekadarnya. Alat tulis? Hmmm, selama masih bisa pinjam, seingat saya juga saya nggak bawa alat tulis. Tapi itu pas zaman SMA.

Mungkin semenjak mulai bekerja, saya sedikit demi sedikit mulai terbiasa membawa segala macam barang di dalam tas saya. Alhasil tas saya, baik yang berbentuk backpack, maupun sling pasti terlihat gendut dan pastinya berat. Bahkan saya sempat dikenal sebagai ATK berjalan, karena segala bentuk alat tulis kantor, semisal stapler, paper clip, lem kertas, binder, cutter,  pasti saya punya dan rela saya pinjamkan. Akibatnya, beberapa kali pula benda-benda itu secara nggak sadar “hilang” dari tempatnya karena lupa saya minta kembali atau tercecer pada saat ada kegiatan gereja maupun kegiatan lain. Anehnya, justru karena kehilangan itu saya justru gembira  lantaran saya jadi bisa beli lagi barang-barang ATK yang baru.

Setelah gadget mulai populer, selain ATK, tas saya dipenuhi perintilan gadget: kabel charger, charger, harddisk, flash disk. Bahkan ketika sudah punya laptop, nambah lagi beban berat tas saya karena kemasukan kabel power beserta adaptornya yang pastinya juga saya bawa.

 

Belakangan, saya menjumpai istilah EDC (Everyday Carry). Istilah ini mengacu pada benda-benda yang sehari-hari selalu berada di kantong, tas, bawaan kita. Lebih jauh lagi, EDC ini juga mau menunjukkan seberapa siap kita saat menjumpai berbagai kemungkinan. Dari trend inilah saya baru tahu kalau senter dan pisau lipat termasuk dalam benda yang wajib dibawa. Padahal sejak dulu yang saya bawa hanyalah pisau lipat a la Victorinox yang dilengkapi berbagai tools lain, atau yang biasa disebut multitools. Itu pun karena keranjingan menonton serial Mac Gyver.

Memang, smartphone zaman now biasanya dilengkapi juga dengan aplikasi flashlight. Namun, dalam situasi tertentu, keberadaan senter kecil cukup membantu manakala pada saat itu smartphone tidak berfungsi. Saya pernah mengalami hal itu. Motor saya bermasalah, suasana gelap karena saat itu memang sudah malam, hape ketinggalan di kantor, maka si kecil senter dan seperangkat multitools sangat membantu mengatasi masalah kecil di motor saya tadi.

Selain senter dan multitools tadi, ada lagi peragkat yang ternyata juga berguna dan merupakan benda-benda yang sebaiknya selalu tersedia di mana pun kita berada yakni IFAK atawa Individual First Aid Kit atawa P3K pribadi. Band-aid, antiseptic, perban, cotton bud maupun alcohol swab adalah  benda-benda yang akhir-akhir ini turut saya sisipkan di pouch kecil saya sebagai kantong P3K. Tentu saja kita tidak menghendaki mengalami kecelakaan. Akan tetapi pada saat terjadi kecelakaan kecil misalkan tersayat cutter, jatuh dari motor dan kecelakaan kecil lainnya, kantong P3K ini sangat membantu. Atau, kadang-kadang bukan kita yang mengalami melainkan teman kita.

Pernah suatu kali, ada salah seorang teman saya mengalami kecelakaan kecil saat sedang menuju ke gereja untuk melakukan pelayanan. Dia terjatuh dari motor karena menghindari seorang anak yang tiba-tiba hendak menyeberang jalan. Kepalanya mengalami luka ringan, juga di beberapa bagian tubuhnya. Untungnya di box motor saya selalu tersimpan kantong P3K, sehingga lukanya bisa dibersihkan dengan antiseptic lalu ditutup dengan handyplast.

Sehingga, kebiasaan membawa barang banyak masih berlangsung sampai sekarang. Malah makin bertambah-tambah saja itemnya. Tadinya hanya berisi ATK dan kabel-kabel smartphone, ditambah lagi dengan P3K, senter,  multitool, Tech Kit (perintilan gadget) dan  Survival Kit (benda-benda untuk saat-saat emergency yang akan saya bahas tersendiri nantinya).

So, what’s in your bag?

Sepanjang Dua Tahun Itu

1 Komentar

Lebih dari dua tahun saya nggak pernah ngeblog lagi. Ternyata begitu banyak kisah yang berjalan dan tak tertutur di sini. Sedikitnya ada tiga kisah penting yang terjadi dalam hidup saya dalam rentang waktu dua tahun itu.

1. Menikah
Setelah 39 tahun membujang, akhirnya expired juga masa jomblo saya itu. Tepatnya 1 Maret 2014 adalah masa berakhirnya status bujangan yang sekian lama saya sandang. Memang rancangan Tuhan nggak pernah ada yang bisa duga. Saya nggak pernah menyangka kalau perempuan yang akan mendampingi seluruh hidup saya adalah teman yang sekian puluh tahun tak pernah berjumpa. Namanya Marla Maria Mainaky. Sekitar 24 tahun lalu dia adalah teman sekelas saya di SMP Mardi Yuana Depok. Setelah kami sama-sama lulus, kami pun menempuh jalan hidup  masing-masing. Meneruskan SMA di sekolah yang berbeda. Memiliki kesibukan dan kegiatan masing-masing tanpa kontak satu sama lain.
Tanpa harus berpanjang-panjang mendetail akhirnya kami pun bertemu kembali, saling bercerita tentang masa-masa SMP,  terus janji bertemu kembali, dan kembali dan ketemu kembali sampai kemudian kami sepakat merajut kehidupan bersama. Yang jelas, seperti saya sebut sebelumnya, rancangan Tuhan memang tak bisa kami duga. Hingga saat ini pun kami berdua kadang masih terheran-heran.

2. Punya Anak
Menikah dengan Marla saya langsung mendapat bonus:Tasha dan Thomas. Putri pertama sudah kelas tiga SMA sedangkan yang kedua sudah kelas enam SD. Beberapa bulan setelah menikah muncul tanda-tanda kehamilan Marla. Betapa girangnya saya kala itu. Sayangnya selang beberapa pekan, janin itu tidak bisa tumbuh sebagaimana mestinya, terlalu lemah sampai akhirnya gugur…. Sedih sekali. Saya sempat menangis keras setelah mengetahui hal itu. Namun, kasih sayang Tuhan tetap menaungi kami. Tak berapa lama, tanda-tanda kehamilan kembali Marla alami. Dengan begitu hati-hati kami merawat janin yang baru beberapa minggu itu. Mendoakannya agar terus tumbuh sehat. Harap-harap cemas kuatir kejadian sebelumnya terulang. Lalu usia kehamilan beranjak bulan demi bulan dan geliat si kecil bisa kami rasakan. Setelah dihitung-hitung dari usia kehamilan, Marla berharap si kecil bisa lahir di tanggal yang sama dengan ulang tahunnya, tanggal 2 Mei. Berdasarkan konsultasi dari dokter, dengan jalan sesar itu dimungkinkan. Karena memang proses sesar adalah jalan yang paling memungkinkan, maka kami pun memutuskan si kecil akan lahir bertepatan dengan hari lahir Marla.
Masa penantian si kecil pun purna sudah. Pada 2 Mei 2015, pukul 09:28, Gio Andrian Soedira lahir, dengan berat 3,4 kg dan panjang 49 cm. Kecemasan kembali muncul karena Gio harus masuk NICU lantaran ada gangguan pada pernapasannya. Selama tiga hari saya hanya bisa berjumpa Gio selama jam besuk saja. Sampai pada akhirnya Gio sudah boleh pulang.

3. Pindah Kerja
Pada 5 September 2009 saya bergabung di PT. Surya Madistrindo dan pada 1 September 2015 saya pun meninggalkan perusahaan itu. Hampir enam tahun lamanya saya berkesempatan bekerja di situ. Bukan waktu yang sedikit dan tentunya juga begitu banyak hal yang saya dapat. Saya pindah ke perusahaan yang pernah “membesarkan” saya: InnoGRAPH. Dan saya kembali ke situ, seakan saya pulang ke “rumah” setelah enam tahun lamanya merantau ke negeri orang.  Karena saya pernah tinggal 12 tahun lamanya di InnoGRAPH, maka tak begitu banyak penyesuaian harus saya alami. Memang ada beberapa perubahan, dan untungnya saya bisa tune in di perubahan-perubahan itu.

Yah, kira-kira demikian tiga kisah penting yang layak saya tuturkan di sini, di samping kisah-kisah lain yang mungkin akan bertebaran di tulisan-tulisan mendatang. Semoga saya bisa rutin menulis lagi.

Masa Adventus dan Orang Majus

Tinggalkan komentar

Setiap kali memasuki masa adventus saya justru teringat orang Majus. Kendati tradisi dan kalender gereja purba memasang peristiwa ini dalam minggu Epifania, saya justru memikirkannya pada minggu-minggu Adventus ini. Dari negeri jauh mereka mencari seorang raja yang tak mereka kenal sama sekali, yang hanya ada dalam ruang pikiran mereka. Sebuah bintang di langit memberi ikhtiar itu kepada mereka dan mereka sepakat untuk pergi menjumpai raja itu. Para majusi itu hidup ketika peralatan global positioning system belum diciptakan, ketika google maps belum ada. Alkitab tak berkisah banyak soal latar belakang para majusi itu, mungkin juga hal tersebut tak penting benar. Namun, banyak ahli kemudian mulai menelaah, menaksir, mengira-ngira dari mana mereka berasal, siapa saja mereka, bagaimana latar belakang budaya mereka dan sebagainya.

Masa adventus merupakan masa penantian kedatangan Sang Raja. Penantian itu mengandung unsur “nanti”, yang berarti bukan sekarang, bisa dua menit lagi, bisa esok hari, bisa pula dua abad lagi. Dalam penantian, kita seringkali menemukan ketidakpastian. Kata “nanti” bukanlah hitungan yang eksak seperti halnya esok hari atau lusa. Dan para majusi pun menjumpai ketidakpastian tadi. Dalam pencarian yang mereka lakukan, terkandung sebuah penantian. Di pemahaman mereka hanya ada sebuah petunjuk: seorang raja akan lahir. Pada masa itu selalu ada raja yang lahir, sama halnya selalu ada seorang bayi yang bukan raja lahir, tapi kenapa mereka memandang istimewa raja yang diikhtiarkan bintang di langit itu? Mereka memperoleh kepastian bahwa memang ada seorang raja yang sangat istimewa yang harus mereka sembah, tapi mereka pun tak tahu persis di mana dan seperti apa raja yang mereka pikirkan itu. Bagaimana jika mereka tidak menemukan raja itu, bagaimana kalau petunjuk bintang itu keliru, bagaimana jika perjalanan mereka yang bermil-mil itu sia-sia? Di sini muncul paradoks: sebuah kepastian yang justru tidak pasti. Tapi para majusi itu tetap sepakat untuk berangkat. Dikisahkan mereka pada akhirnya berjumpa Sang Raja, di sebuah kandang, di Efrata.

Kembali ke soal penantian tadi. Para majus memang bersepakat untuk mencari, namun di balik pencarian itu mereka pun menyimpan sebuah penantian. Penantian itu beriringan dengan pencarian. Mereka tidak hanya diam. Mereka berangkat, memulai sebuah langkah, menderapkan langkah itu, mungkin bermil-mil jauhnya, mungkin berbulan-bulan lamanya. Ada jarak yang mereka tempuh, ada rentang waktu yang mereka rengkuh, mungkin juga biaya, tenaga dan lain sebagainya.

Di sini saya melihat masa Adventus tak sekadar masa penantian akan datangnya Sang Raja dari kandang Efrata itu, tapi juga masa pencarian. Di dalam pencarian itu saya mulai melangkah, bertanya, merenung, berikhtiar. Menanti sambil mencari. Mencari adalah menanti, dengan atau tanpa emas, kemenyan dan mur.

Caping

Tinggalkan komentar

caping

Buku kumpulan Catatan Pinggir (caping) sudah sampai 10 jilid. Secara hitungan tahun, usia caping sudah sekitar 37 tahun sejak pertama kali muncul di Majalah Berita Mingguan Tempo pada tahun 1976. Penulisnya, Genawan Mohamad kini sudah melampaui usia 70 tahun. Sementara, saya sendiri menggemari caping baru sekitar akhir tahun 90-an. Saat itu usia caping mungkin sudah 20-an tahun. Saya mulai membaca Tempo, yang menjadi “rumah” bagi caping, justru ketika Tempo sudah dibredel. Saya membacanya dari tukang majalah bekas. Yang pertama kali saya baca waktu itu, seingat saya, edisi yang membuat majalah berita mingguan ini dibredel, yakni tentang pembelian kapal perang eks-Jerman Timur pada tahun 1994. Sejak itu, saya mengkliping caping, namun entah di mana klipingan itu. Dan setelah bekerja, saya menemukan caping sudah dijilid dalam bentuk buku. Sudah ada empat jilid pada waktu itu, dan saya akhirnya merelakan separuh gaji saya untuk membeli keempat jilidnya di satu-satunya toko buku di Depok yang lumayan lengkap, Toko Buku Graffiti Press, di Lantai Dasar Pasar Swalayan Italiano, Jalan Margonda yang kemudian menjadi Pasar Swalayan Hero, dan sekarang menjadi toko furnitur Informa.

Entah kenapa saya tertarik pada caping, padahal bahasanya sulit sekali dicerna. Topik yang diangkat pun bukanlah topik sederhana, sangat rumit. Tapi saya menikmati setiap kata yang tercetak di buku dan atau halaman akhir majalah Tempo. Sejumlah peristiwa, berbagai tokoh yang dia sebutkan di catatan pinggirnya itu kadangkala tak saya kenal betul. Kendati saya tak paham betul siapa itu Adorno atau Gramsci, saya toh tekun membaca satu judul  sampai selesai. Bahkan ketika saya susah tidur, saya mengambil satu jilid caping secara sembarang dan membacanya, berharap bacaannya yang berat itu bisa membuat saya akhirnya mengantuk. Dan, anehnya, gaya tulisan caping ini seringkali saya tiru dalam setiap tulisan saya, entah di blog, renungan atau sekadar celoteh tentang suatu ihwal di milis-milis. Entah sihir macam apa yang digunakan Goenawan Mohamad yang membuat saya begitu terpikat pada caping sehingga setia mengumpulkan buku kumpulannya yang sudah mencapai sepuluh jilid itu.

Setiap judulnya seringkali sembarangan saja saya baca. Tak selalu berurutan. Justru karena itulah caping jadi asyik dibaca tanpa ada beban untuk menyelesaikan satu buku secara penuh. Bahkan ada yang satu judul saya baca sampai puluhan kali dan ada pula judul yang sama sekali belum saya baca. Sampai jilid kelima, buku kumpulan caping sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan topik, jadi rada lebih mudah menemukan topik yang ingin saya baca. Pada jilidnya yang keenam, pengelompokkan itu sudah tidak ada lagi, susunannya dibuat secara kronologis, sesuai tanggal penerbitannya. Namun itu tidak mengurangi keasyikan membacanya. Dan yang lebih mengasyikan lagi adalah tulisan pengantar setiap jilidnya yang ditulis oleh berbagai kalangan, sebagian besar budayawan. Ada Ignas Kleden, Bambang Sugiharto, Th. Sumartana dan jilid terakhir ini Ayu Utami. Berbagai perspektif mengenai kumpulan caping ini pun semakin membawa saya pada konsep berpikir yang intens, sekaligus diwarnai kegelisahan dan keraguan.

Caping memang telah merasuki cara berpikir saya. Dengan caranya sendiri setiap kata yang menetes dari satu judul caping, telah membentuk kepingan-kepingan di sekujur pikiran saya.

Simulakra Prewedding

1 Komentar

Siapapun yang memprakarsai atau yang pertama kali memulai sebuah aktivitas prewedding (yang isinya berupa karya fotografi calon pengantin sebelum pelaksanaan pernikahan) rasanya perlu dikenang sebagai salah seorang penemu yang cukup berpengaruh dalam dunia fotografi atau acara pernikahan. Betapa tidak. Sebelum tahun sembilan puluhan rasanya kegiatan prewedding tidak booming seperti sekarang. Seingat saya, saat kakak-kakak saya menikah, tidak ada satu pun dari mereka yang repot-repot melakukan kegiatan prewedding ini: mencari spot yang cocok, menyewa fotografer profesional, atau setidaknya mereka yang dianggap piawai mengabadikan gambar, mengatur gaya agar karya fotografi jadi lebih ciamik.

Setiapkali melihat karya fotografi prewedding ini, saya selalu teringat Baudrillard. Baudrillard pernah berteori bahwa di dalam abad teknologi seperti sekarang ini realitas telah berubah dalam bentuk pencitraan, imaji-imaji yang dihasilkan oleh proses simulasi. Dalam hal prewedding tadi simulasi diwujudkan dalam bentuk romantisme yang telah diatur, ditata, agar pencitraan tadi menghasilkan imaji sesuai keinginan kita. Maka itu kalangan berada barangkali akan menyewa fotografer mahal agar proses simulasi tadi menghasilkan karya yang keren. Sementara bagi kalangan pas-pasan biasanya meminta bantuan teman-teman yang hobi fotografi untuk mewujudkan hal itu. Berbagai lokasi cantik dicari, berbagai momen romantis diciptakan, bahkan cara memandang dan bergandengan tangan pun disesuaikan dengan arahan fotografer ataupun penata gaya. Bahkan realitas pun tak cuma disimulasikan, bahkan dimanipulasi hingga melampaui kenyataan sebenarnya.

Maka dari karya fotografi prewedding ini kesadaran kita dibangun, dikonstruksi menjadi sebentuk realitas baru. Nah berbagai kesadaran ini akan mengerucut kepada sebuah pemahaman bahwa prewedding itu sebagai sebuah keniscayaan. Dia menjadi semacam “ideologi” yang pantas dipertahankan dalam kegiatan perhelatan pernikahan. Dia pun menjadi sebuah simulakrum, kesadaran yang lahir karena berbagai pemahaman atau ideologi sebagai wujud simulasi tadi. Momen romantis itu sedemikian pentingnya sehingga perlu diatur dan disimulasikan agar tampil sebagai pencitraan diri pasangan yang hendak menikah. [ ]

Lima Belas Tahun Silam

Tinggalkan komentar

Bukannya saya tidak menyukai Gerindra atau mempercayai Hanura, namun entah kenapa saya belum juga bisa memaafkan Prabowo dan Wiranto yang turut andil atas sejarah kelam di negeri ini lima belas tahun silam.
Bukannya saya tak mendukung pemilu bersih, namun entah kenapa saya belum juga bisa melepaskan kesedihan yang saya rasakan saat memandangi kobaran api dan rakyat yang rakus menjarah toko-toko lima belas tahun silam.
Saya bukannya tak mencintai semangat demokrasi di negeri ini, namun entah kenapa saya belum juga bisa melupakan perlakuan yang dialami Munir dan Widji Tukul yang sebenarnya justru orang-orang yang menjunjung semangat demokrasi kita lima belas tahun silam.

Apakah saya harus melupakan semua itu? Apakah saya harus merelakan peristiwa-peristiwa itu biarlah menjadi sejarah masa lalu yang sebaiknya saya simpan di dalam peti lusuh nun di dalam relung pikiran saya?

“Perjuangan melawan kekuasaan, adalah perjuangan melawan lupa.” – Milan Kundera

“Lebih baik golput daripada tidak sama sekali.” – Fauzan R. Soedira

Bapak-bapak Kami Yang Duduk di Kursi Kekuasaan

Tinggalkan komentar

Bapak-bapak kami yang ada di kekuasaan sana
Dihormatilah kiranya kalian selalu
Datanglah segera kekuasaanmu
Jadilah apa yang kalian anggap waras dan bikin bumi ini damai
Berikanlah kami pada hari ini kebebasan untuk beribadah yang secukupnya
Dan ampunilah kewarasan kami yang mungkin lebih waras dari mereka yang memperlakukan ketidakwarasan kepada kami
Janganlah membawa kami pada kebingungan, tetapi lepaskanlah kami dari segala prasangka
Karena kalianlah yang saat ini punya kuasa, kekuatan dan mungkin bedil, sampai entah kapan.

PS: kami hanya ingin beribadah, bukan untuk mendirikan negara baru. Catat itu.

Pengamen abadi yang menyanyi ke terminal sunyi

Tinggalkan komentar

Debu menetes dari topi petnya, ketika lelaki muda itu bersenandung
Tentang harga bensin dan susu formula
Sepi menukik
Lagu kudus dari lelaki muda itu
menenteramkan siang

Ribuan malaikat
memadati angkot seraya bermain harpa
Berkatilah susu formula kami
di bumi seperti di sorga
Bisik ibu-ibu di sudut angkot
Lelaki muda itu lalu bermain harmonika
Alunan kudus itu bertaburan

Sepi berbelok ke sebelah kiri
Berikanlah kami bensin kami yang secukupnya
Sahut pak sopir seraya menghembuskan wangi tembakau

Lalu semuanya tersenyum ramah

Pahit

Tinggalkan komentar

Kau mengetuk pada sebuah
jarak yang pahit

Meninggalkan jejak nila pada tepian ruang yang sempit
Tidakkah kita pernah mengucapkan sebuah mantra yang indah
Saking seringnya sampai kita berdua lelah

Tapi kini hanya sebuah ketukan pahit
Yang kau tinggalkan

tanpa pamit

Older Entries