Aku Bermimpi Jadi Pilatus

Tinggalkan komentar

Pagi-pagi sekali, saya sudah mendapat pekerjaan yang sebenarnya bukan urusan saya. Segerombolan pemimpin Yahudi mendatangi saya dan meminta saya menghukum mati seseorang. Saya mengernyitkan dahi sejenak. Pekerjaan menghukum mati itu sebenarnya bukan hal yang patut membuat kening saya berkerut-kerut. Tapi, segerombolan Pemimpin Yahudi, mendatangi saya pagi-pagi, meminta saya menghukum mati seseorang. Pemimpin Yahudi menghukum mati? Ah, yang benar saja.
             Sambil terheran-heran, saya sempat menanggapi dengan dingin. “Kenapa tidak kalian saja yang menghukum mati dia, sesuai hukum yang kalian punya?” Jawab mereka, hukum mereka melarang menghukum mati seseorang.
            Dengan sedikit penasaran saya minta “seseorang” itu dibawa masuk. Tak lama, masuklah seorang pria berwajah kuyu (mungkin kurang tidur). Beberapa pertanyaan saya ajukan kepada orang ini. Tapi anehnya, setiap jawaban yang keluar dari mulutnya kadang membuat saya terkesiap. Dan sambil geleng-geleng kepala, saya berkata kepada pemimpin Yahudi, “saya tidak menemukan kesalahan apapun pada dirinya!”
170316155803-finding-jesus-david-gregory-pontius-pilate-stone-00002302
          Namun, para pemimpin Yahudi itu mendesak saya. Bahkan sempat menyinggung-nyinggung posisi saya dengan mengatakan, kalau saya tidak menghukum mati orang itu, saya dianggap telah berkhianat terhadap kaisar karena membiarkan seseorang menjadi “raja”. Wah, gawat ini. Kalau para petinggi Romawi sampai mendengar berita sepihak ditambah bumbu-bumbu penyedap, akan terjadi kesalahtafsiran, nih. Bisa-bisa saya benar-benar dianggap memberontak. Walau kenyataannya tidak seperti itu. Saya ini sangat loyal pada kaisar. Tapi kalau lawan-lawan politik saya memutarbalikkan fakta sedemikian rupa, bukan tidak mungkin posisi saya akan terancam. Wah, gawat ini!
          Ya, sudah, supaya mereka puas, saya panggil prajurit-prajurit saya untuk menyiksa orang itu. Masak, sih, setelah melihat orang tesebut berdarah-darah, mereka belum puas juga! Saya pun kembali ke dalam ruangan kerja saya, sementara para prajurit melaksanakan tugasnya. Ah, masih banyak paper works yang mesti saya selesaikan hari ini. Biar saja para pemimpin Yahudi itu saja yang menyaksikan penyiksaan itu.
          Sambil duduk di meja kerja saya, saya mendengar bunyi lecutan cemeti berkali-kali diselingi teriakan menyayat dari orang itu. Tapi, masa bodo amat. Toh, setelah melihat penyiksaan itu, mungkin pemimpin yahudi akan membatalkan tuntutan hukuman mati mereka. Sudahlah! Masih banyak yang perlu saya kerjakan!
          Setelah bunyi-bunyi cemeti itu tak terdengar lagi, hanya rintihan kecil serta dengusan napas yang terputus-putus yang sekali-sekali terdengar, saya pun keluar lagi. Di luar ruangan kerja saya, saya mendapati orang itu terkapar dengan tubuh berbasuh darah dan sobekan-sobekan daging bertebaran di sekujur tubuhnya. Sekilas masih terlihat tetesan-tetesan darah dari ujung cemeti yang digunakan prajurit saya. Dan… hei… ide siapa itu? Ada mahkota terbuat dari duri menancap di kepala orang itu. Ck… ck… ck… kreatif sekali prajurit saya itu…. Mungkin mereka sempat mengejeknya tadi.
          Saya pun kembali berdiri dan berbicara di depan para pemimpin yahudi dan sekumpulan orang, mungkin yahudi juga, yang menyemut di halaman kantor walikota. “Lihatlah manusia itu!” kata saya. “Saya tidak menemukan kesalahan apapun pada orang ini!”
          Di kerumunan itu malah terdengar teriakan, “Salibkan dia! Salibkan Dia!”
          Hah, salib? Waduh, nggak sembarangan hukuman itu harus ditimpakan. Hanya bandit-bandit kotor dan para pemberontak bandel yang patut mendapat hukuman itu! Apakah mereka tak tau itu? Dan, ah, masak sih orang seperti itu harus mati dengan cara seperti itu? Tapi demi mendengar teriakan para hadirin, saya pun berpikir keras! “Saya tidak mungkin menyalibkan ‘raja’mu!” Jawab saya dengan menekankan kata raja! Tapi jawab mereka, “Tidak ada raja lain bagi kami selain kaisar!”
          Waduh, terserahlah. Sambil meminta pelayan saya mengambil sebaskom air, sayapun mencuci tangan di hadapan para hadirin. “Saya tidak bertanggung jawab atas darah orang ini! Kalianlah yang menanggungnya!” Jawab saya dengan nada kesal sambil membasuh tangan saya di dalam baskom itu. Kemudian kembali ke ruangan kerja saya demi membuat sebuah surat keputusan berstempel kerajaan yang isinya menyatakan penghukuman mati atas orang itu. Tentunya dengan beberapa catatan khusus. Setelah itu, saya lemparkan surat itu di hadapan para pemimpin Yahudi itu.
          Terlintas senyum puas di bibir para pemimpin Yahudi itu, sekilas, ketika saya hendak membalikkan tubuh menuju ruangan kerja saya untuk meneruskan pekerjaan lainnya.
          Cukup lama saya terdiam di hadapan tumpukan pekerjaan di meja saya. Lalu waktu terus berjalan…. Melewati waktu makan siang, sisa risau itu tetap melekat dalam dada saya. Ah, makanan pun terasa getir, tak ada selera. Mendekati pukul tiga, mendadak saya rasakan guncangan pada tubuh saya. Wah, gempa bumi-kah ini? Langit gelap, dan guncangan itu semakin keras saya rasakan!
          “Woi, bangun, Mon! Udah jam berapa ini? Kerja gak luh! Bangun atau gua siram nih!”
          Wah, ternyata saya mimpi jadi Pilatus! Gempa itu rupanya ulah kakak saya yang mengguncang-guncangkan tubuh saya. Ah, gara-gara nonton The Passion of the Christ, sih! Untung saya gak bermimpi jadi Yudas!
=============
Saya tulis ulang di blog ini sebagai refleksi menjelang Jumat Agung. Ini tulisan sekitar tahun 2004 ketika film Passion of The Christ belum lama rilis. Saya sendiri menontonnya pertama kali dari DVD bajakan.
Iklan

Misalkan Yesus di Guantanamo

Tinggalkan komentar

Nama lengkapku, Yehoshua bin Yosef. Kalian mengenalku dengan
panggilan Yesus. Hanya sedikit perbedaan lafal. Tak apa. Tak soal. Ayahku, Yosef atau Yusuf, memang tukang kayu. Tak terlalu terkenal. Biasa-biasa saja. Kadang aku membantunya. Tapi belakangan aku lebih dikenal sebagai seorang guru, tepatnya guru agama. Aku terkadang mengajarkan akhlak, bukan ilmu falak ataupun ilmu eksak. Tak ada yang salah sebenarnya dengan pekerjaanku. Tapi suatu ketika aku kena fitnah dan dihukum karena ajaran-ajaranku.

Suatu malam, ketika aku sedang berdoa, sepasukan tentara bersenjata lengkap menggiringku. Seorang muridku sempat melepaskan tembakan dengan pistolnya dan mengenai telinga salah seorang tentara itu. Aku jelas marah kepada muridku itu, kemudian mencoba mengobati telinga prajurit yang luka itu sebisaku. Kemudian mereka menutup kepalaku dengan kantong hitam, aku tak tahu hendak di bawa ke mana.

Jesus-in-guantanamo

Terik matahari siang menyengat sekali. Kepalaku masih ditutupi kain hitam. Lalu aku merasa aku digiring ke sebuah ruangan yang pengap oleh asap
rokok.

“Kau menghasut banyak orang! Kau bilang bisa menghancurkan Al-Aqsa dan membangunnya kembali dalam tiga hari? Dasar tukang kibul! Cuihhh!”

Aku disetrum lagi.

“Jadi kamu ini anak Allah?”

Buk! Sebuah bacagi meremukkan tulang rusukku.

“Kau ini anak tukang kayu, ngaku-ngaku anak Allah? Penipu!”

Cressss! Kali ini sebatang rokok mereka sundut ke kulit tanganku.

Entah berapa lama aku berada di kamar gelap ini. Sekujur tubuhku nyaris lumpuh dan remuk. Pergelangan tanganku perih karena tubuhku tergantung berjam-jam selama beberapa hari ini.

Kali ini mereka mendudukkanku di atas sebuah kursi kayu. Bau keringat apak menguar di sekelilingku. Tiba-tiba…. “Aaaaaarrrrrgggghhhhhh!” Jemari kakiku mereka tindih dengan salah satu kaki kursi yang diduduki seorang dari mereka. Jempol kakiku nyaris hancur.

“Masih juga mengaku sebagai anak Allah?”

“Aaaaaarrrrrggggghhhhh!”

=========================

Ini tulisan lama, postingan di milis GPIB. Saya tulis ulang di blog sebagai refleksi menjelang Jumat Agung.

What’s in Your Bag?

Tinggalkan komentar

Entah sejak kapan saya punya kebiasaan membawa “palugada” (apa lu mau gua ada) di dalam tas.  Seingat saya, semasa SMA dulu saya justru hanya bawa buku sekadarnya. Alat tulis? Hmmm, selama masih bisa pinjam, seingat saya juga saya nggak bawa alat tulis. Tapi itu pas zaman SMA.

Mungkin semenjak mulai bekerja, saya sedikit demi sedikit mulai terbiasa membawa segala macam barang di dalam tas saya. Alhasil tas saya, baik yang berbentuk backpack, maupun sling pasti terlihat gendut dan pastinya berat. Bahkan saya sempat dikenal sebagai ATK berjalan, karena segala bentuk alat tulis kantor, semisal stapler, paper clip, lem kertas, binder, cutter,  pasti saya punya dan rela saya pinjamkan. Akibatnya, beberapa kali pula benda-benda itu secara nggak sadar “hilang” dari tempatnya karena lupa saya minta kembali atau tercecer pada saat ada kegiatan gereja maupun kegiatan lain. Anehnya, justru karena kehilangan itu saya justru gembira  lantaran saya jadi bisa beli lagi barang-barang ATK yang baru.

Setelah gadget mulai populer, selain ATK, tas saya dipenuhi perintilan gadget: kabel charger, charger, harddisk, flash disk. Bahkan ketika sudah punya laptop, nambah lagi beban berat tas saya karena kemasukan kabel power beserta adaptornya yang pastinya juga saya bawa.

 

Belakangan, saya menjumpai istilah EDC (Everyday Carry). Istilah ini mengacu pada benda-benda yang sehari-hari selalu berada di kantong, tas, bawaan kita. Lebih jauh lagi, EDC ini juga mau menunjukkan seberapa siap kita saat menjumpai berbagai kemungkinan. Dari trend inilah saya baru tahu kalau senter dan pisau lipat termasuk dalam benda yang wajib dibawa. Padahal sejak dulu yang saya bawa hanyalah pisau lipat a la Victorinox yang dilengkapi berbagai tools lain, atau yang biasa disebut multitools. Itu pun karena keranjingan menonton serial Mac Gyver.

Memang, smartphone zaman now biasanya dilengkapi juga dengan aplikasi flashlight. Namun, dalam situasi tertentu, keberadaan senter kecil cukup membantu manakala pada saat itu smartphone tidak berfungsi. Saya pernah mengalami hal itu. Motor saya bermasalah, suasana gelap karena saat itu memang sudah malam, hape ketinggalan di kantor, maka si kecil senter dan seperangkat multitools sangat membantu mengatasi masalah kecil di motor saya tadi.

Selain senter dan multitools tadi, ada lagi peragkat yang ternyata juga berguna dan merupakan benda-benda yang sebaiknya selalu tersedia di mana pun kita berada yakni IFAK atawa Individual First Aid Kit atawa P3K pribadi. Band-aid, antiseptic, perban, cotton bud maupun alcohol swab adalah  benda-benda yang akhir-akhir ini turut saya sisipkan di pouch kecil saya sebagai kantong P3K. Tentu saja kita tidak menghendaki mengalami kecelakaan. Akan tetapi pada saat terjadi kecelakaan kecil misalkan tersayat cutter, jatuh dari motor dan kecelakaan kecil lainnya, kantong P3K ini sangat membantu. Atau, kadang-kadang bukan kita yang mengalami melainkan teman kita.

Pernah suatu kali, ada salah seorang teman saya mengalami kecelakaan kecil saat sedang menuju ke gereja untuk melakukan pelayanan. Dia terjatuh dari motor karena menghindari seorang anak yang tiba-tiba hendak menyeberang jalan. Kepalanya mengalami luka ringan, juga di beberapa bagian tubuhnya. Untungnya di box motor saya selalu tersimpan kantong P3K, sehingga lukanya bisa dibersihkan dengan antiseptic lalu ditutup dengan handyplast.

Sehingga, kebiasaan membawa barang banyak masih berlangsung sampai sekarang. Malah makin bertambah-tambah saja itemnya. Tadinya hanya berisi ATK dan kabel-kabel smartphone, ditambah lagi dengan P3K, senter,  multitool, Tech Kit (perintilan gadget) dan  Survival Kit (benda-benda untuk saat-saat emergency yang akan saya bahas tersendiri nantinya).

So, what’s in your bag?

Sepanjang Dua Tahun Itu

1 Komentar

Lebih dari dua tahun saya nggak pernah ngeblog lagi. Ternyata begitu banyak kisah yang berjalan dan tak tertutur di sini. Sedikitnya ada tiga kisah penting yang terjadi dalam hidup saya dalam rentang waktu dua tahun itu.

1. Menikah
Setelah 39 tahun membujang, akhirnya expired juga masa jomblo saya itu. Tepatnya 1 Maret 2014 adalah masa berakhirnya status bujangan yang sekian lama saya sandang. Memang rancangan Tuhan nggak pernah ada yang bisa duga. Saya nggak pernah menyangka kalau perempuan yang akan mendampingi seluruh hidup saya adalah teman yang sekian puluh tahun tak pernah berjumpa. Namanya Marla Maria Mainaky. Sekitar 24 tahun lalu dia adalah teman sekelas saya di SMP Mardi Yuana Depok. Setelah kami sama-sama lulus, kami pun menempuh jalan hidup  masing-masing. Meneruskan SMA di sekolah yang berbeda. Memiliki kesibukan dan kegiatan masing-masing tanpa kontak satu sama lain.
Tanpa harus berpanjang-panjang mendetail akhirnya kami pun bertemu kembali, saling bercerita tentang masa-masa SMP,  terus janji bertemu kembali, dan kembali dan ketemu kembali sampai kemudian kami sepakat merajut kehidupan bersama. Yang jelas, seperti saya sebut sebelumnya, rancangan Tuhan memang tak bisa kami duga. Hingga saat ini pun kami berdua kadang masih terheran-heran.

2. Punya Anak
Menikah dengan Marla saya langsung mendapat bonus:Tasha dan Thomas. Putri pertama sudah kelas tiga SMA sedangkan yang kedua sudah kelas enam SD. Beberapa bulan setelah menikah muncul tanda-tanda kehamilan Marla. Betapa girangnya saya kala itu. Sayangnya selang beberapa pekan, janin itu tidak bisa tumbuh sebagaimana mestinya, terlalu lemah sampai akhirnya gugur…. Sedih sekali. Saya sempat menangis keras setelah mengetahui hal itu. Namun, kasih sayang Tuhan tetap menaungi kami. Tak berapa lama, tanda-tanda kehamilan kembali Marla alami. Dengan begitu hati-hati kami merawat janin yang baru beberapa minggu itu. Mendoakannya agar terus tumbuh sehat. Harap-harap cemas kuatir kejadian sebelumnya terulang. Lalu usia kehamilan beranjak bulan demi bulan dan geliat si kecil bisa kami rasakan. Setelah dihitung-hitung dari usia kehamilan, Marla berharap si kecil bisa lahir di tanggal yang sama dengan ulang tahunnya, tanggal 2 Mei. Berdasarkan konsultasi dari dokter, dengan jalan sesar itu dimungkinkan. Karena memang proses sesar adalah jalan yang paling memungkinkan, maka kami pun memutuskan si kecil akan lahir bertepatan dengan hari lahir Marla.
Masa penantian si kecil pun purna sudah. Pada 2 Mei 2015, pukul 09:28, Gio Andrian Soedira lahir, dengan berat 3,4 kg dan panjang 49 cm. Kecemasan kembali muncul karena Gio harus masuk NICU lantaran ada gangguan pada pernapasannya. Selama tiga hari saya hanya bisa berjumpa Gio selama jam besuk saja. Sampai pada akhirnya Gio sudah boleh pulang.

3. Pindah Kerja
Pada 5 September 2009 saya bergabung di PT. Surya Madistrindo dan pada 1 September 2015 saya pun meninggalkan perusahaan itu. Hampir enam tahun lamanya saya berkesempatan bekerja di situ. Bukan waktu yang sedikit dan tentunya juga begitu banyak hal yang saya dapat. Saya pindah ke perusahaan yang pernah “membesarkan” saya: InnoGRAPH. Dan saya kembali ke situ, seakan saya pulang ke “rumah” setelah enam tahun lamanya merantau ke negeri orang.  Karena saya pernah tinggal 12 tahun lamanya di InnoGRAPH, maka tak begitu banyak penyesuaian harus saya alami. Memang ada beberapa perubahan, dan untungnya saya bisa tune in di perubahan-perubahan itu.

Yah, kira-kira demikian tiga kisah penting yang layak saya tuturkan di sini, di samping kisah-kisah lain yang mungkin akan bertebaran di tulisan-tulisan mendatang. Semoga saya bisa rutin menulis lagi.

Masa Adventus dan Orang Majus

Tinggalkan komentar

Setiap kali memasuki masa adventus saya justru teringat orang Majus. Kendati tradisi dan kalender gereja purba memasang peristiwa ini dalam minggu Epifania, saya justru memikirkannya pada minggu-minggu Adventus ini. Dari negeri jauh mereka mencari seorang raja yang tak mereka kenal sama sekali, yang hanya ada dalam ruang pikiran mereka. Sebuah bintang di langit memberi ikhtiar itu kepada mereka dan mereka sepakat untuk pergi menjumpai raja itu. Para majusi itu hidup ketika peralatan global positioning system belum diciptakan, ketika google maps belum ada. Alkitab tak berkisah banyak soal latar belakang para majusi itu, mungkin juga hal tersebut tak penting benar. Namun, banyak ahli kemudian mulai menelaah, menaksir, mengira-ngira dari mana mereka berasal, siapa saja mereka, bagaimana latar belakang budaya mereka dan sebagainya.

Masa adventus merupakan masa penantian kedatangan Sang Raja. Penantian itu mengandung unsur “nanti”, yang berarti bukan sekarang, bisa dua menit lagi, bisa esok hari, bisa pula dua abad lagi. Dalam penantian, kita seringkali menemukan ketidakpastian. Kata “nanti” bukanlah hitungan yang eksak seperti halnya esok hari atau lusa. Dan para majusi pun menjumpai ketidakpastian tadi. Dalam pencarian yang mereka lakukan, terkandung sebuah penantian. Di pemahaman mereka hanya ada sebuah petunjuk: seorang raja akan lahir. Pada masa itu selalu ada raja yang lahir, sama halnya selalu ada seorang bayi yang bukan raja lahir, tapi kenapa mereka memandang istimewa raja yang diikhtiarkan bintang di langit itu? Mereka memperoleh kepastian bahwa memang ada seorang raja yang sangat istimewa yang harus mereka sembah, tapi mereka pun tak tahu persis di mana dan seperti apa raja yang mereka pikirkan itu. Bagaimana jika mereka tidak menemukan raja itu, bagaimana kalau petunjuk bintang itu keliru, bagaimana jika perjalanan mereka yang bermil-mil itu sia-sia? Di sini muncul paradoks: sebuah kepastian yang justru tidak pasti. Tapi para majusi itu tetap sepakat untuk berangkat. Dikisahkan mereka pada akhirnya berjumpa Sang Raja, di sebuah kandang, di Efrata.

Kembali ke soal penantian tadi. Para majus memang bersepakat untuk mencari, namun di balik pencarian itu mereka pun menyimpan sebuah penantian. Penantian itu beriringan dengan pencarian. Mereka tidak hanya diam. Mereka berangkat, memulai sebuah langkah, menderapkan langkah itu, mungkin bermil-mil jauhnya, mungkin berbulan-bulan lamanya. Ada jarak yang mereka tempuh, ada rentang waktu yang mereka rengkuh, mungkin juga biaya, tenaga dan lain sebagainya.

Di sini saya melihat masa Adventus tak sekadar masa penantian akan datangnya Sang Raja dari kandang Efrata itu, tapi juga masa pencarian. Di dalam pencarian itu saya mulai melangkah, bertanya, merenung, berikhtiar. Menanti sambil mencari. Mencari adalah menanti, dengan atau tanpa emas, kemenyan dan mur.

Caping

Tinggalkan komentar

caping

Buku kumpulan Catatan Pinggir (caping) sudah sampai 10 jilid. Secara hitungan tahun, usia caping sudah sekitar 37 tahun sejak pertama kali muncul di Majalah Berita Mingguan Tempo pada tahun 1976. Penulisnya, Genawan Mohamad kini sudah melampaui usia 70 tahun. Sementara, saya sendiri menggemari caping baru sekitar akhir tahun 90-an. Saat itu usia caping mungkin sudah 20-an tahun. Saya mulai membaca Tempo, yang menjadi “rumah” bagi caping, justru ketika Tempo sudah dibredel. Saya membacanya dari tukang majalah bekas. Yang pertama kali saya baca waktu itu, seingat saya, edisi yang membuat majalah berita mingguan ini dibredel, yakni tentang pembelian kapal perang eks-Jerman Timur pada tahun 1994. Sejak itu, saya mengkliping caping, namun entah di mana klipingan itu. Dan setelah bekerja, saya menemukan caping sudah dijilid dalam bentuk buku. Sudah ada empat jilid pada waktu itu, dan saya akhirnya merelakan separuh gaji saya untuk membeli keempat jilidnya di satu-satunya toko buku di Depok yang lumayan lengkap, Toko Buku Graffiti Press, di Lantai Dasar Pasar Swalayan Italiano, Jalan Margonda yang kemudian menjadi Pasar Swalayan Hero, dan sekarang menjadi toko furnitur Informa.

Entah kenapa saya tertarik pada caping, padahal bahasanya sulit sekali dicerna. Topik yang diangkat pun bukanlah topik sederhana, sangat rumit. Tapi saya menikmati setiap kata yang tercetak di buku dan atau halaman akhir majalah Tempo. Sejumlah peristiwa, berbagai tokoh yang dia sebutkan di catatan pinggirnya itu kadangkala tak saya kenal betul. Kendati saya tak paham betul siapa itu Adorno atau Gramsci, saya toh tekun membaca satu judul  sampai selesai. Bahkan ketika saya susah tidur, saya mengambil satu jilid caping secara sembarang dan membacanya, berharap bacaannya yang berat itu bisa membuat saya akhirnya mengantuk. Dan, anehnya, gaya tulisan caping ini seringkali saya tiru dalam setiap tulisan saya, entah di blog, renungan atau sekadar celoteh tentang suatu ihwal di milis-milis. Entah sihir macam apa yang digunakan Goenawan Mohamad yang membuat saya begitu terpikat pada caping sehingga setia mengumpulkan buku kumpulannya yang sudah mencapai sepuluh jilid itu.

Setiap judulnya seringkali sembarangan saja saya baca. Tak selalu berurutan. Justru karena itulah caping jadi asyik dibaca tanpa ada beban untuk menyelesaikan satu buku secara penuh. Bahkan ada yang satu judul saya baca sampai puluhan kali dan ada pula judul yang sama sekali belum saya baca. Sampai jilid kelima, buku kumpulan caping sudah dikelompok-kelompokkan berdasarkan topik, jadi rada lebih mudah menemukan topik yang ingin saya baca. Pada jilidnya yang keenam, pengelompokkan itu sudah tidak ada lagi, susunannya dibuat secara kronologis, sesuai tanggal penerbitannya. Namun itu tidak mengurangi keasyikan membacanya. Dan yang lebih mengasyikan lagi adalah tulisan pengantar setiap jilidnya yang ditulis oleh berbagai kalangan, sebagian besar budayawan. Ada Ignas Kleden, Bambang Sugiharto, Th. Sumartana dan jilid terakhir ini Ayu Utami. Berbagai perspektif mengenai kumpulan caping ini pun semakin membawa saya pada konsep berpikir yang intens, sekaligus diwarnai kegelisahan dan keraguan.

Caping memang telah merasuki cara berpikir saya. Dengan caranya sendiri setiap kata yang menetes dari satu judul caping, telah membentuk kepingan-kepingan di sekujur pikiran saya.

Simulakra Prewedding

1 Komentar

Siapapun yang memprakarsai atau yang pertama kali memulai sebuah aktivitas prewedding (yang isinya berupa karya fotografi calon pengantin sebelum pelaksanaan pernikahan) rasanya perlu dikenang sebagai salah seorang penemu yang cukup berpengaruh dalam dunia fotografi atau acara pernikahan. Betapa tidak. Sebelum tahun sembilan puluhan rasanya kegiatan prewedding tidak booming seperti sekarang. Seingat saya, saat kakak-kakak saya menikah, tidak ada satu pun dari mereka yang repot-repot melakukan kegiatan prewedding ini: mencari spot yang cocok, menyewa fotografer profesional, atau setidaknya mereka yang dianggap piawai mengabadikan gambar, mengatur gaya agar karya fotografi jadi lebih ciamik.

Setiapkali melihat karya fotografi prewedding ini, saya selalu teringat Baudrillard. Baudrillard pernah berteori bahwa di dalam abad teknologi seperti sekarang ini realitas telah berubah dalam bentuk pencitraan, imaji-imaji yang dihasilkan oleh proses simulasi. Dalam hal prewedding tadi simulasi diwujudkan dalam bentuk romantisme yang telah diatur, ditata, agar pencitraan tadi menghasilkan imaji sesuai keinginan kita. Maka itu kalangan berada barangkali akan menyewa fotografer mahal agar proses simulasi tadi menghasilkan karya yang keren. Sementara bagi kalangan pas-pasan biasanya meminta bantuan teman-teman yang hobi fotografi untuk mewujudkan hal itu. Berbagai lokasi cantik dicari, berbagai momen romantis diciptakan, bahkan cara memandang dan bergandengan tangan pun disesuaikan dengan arahan fotografer ataupun penata gaya. Bahkan realitas pun tak cuma disimulasikan, bahkan dimanipulasi hingga melampaui kenyataan sebenarnya.

Maka dari karya fotografi prewedding ini kesadaran kita dibangun, dikonstruksi menjadi sebentuk realitas baru. Nah berbagai kesadaran ini akan mengerucut kepada sebuah pemahaman bahwa prewedding itu sebagai sebuah keniscayaan. Dia menjadi semacam “ideologi” yang pantas dipertahankan dalam kegiatan perhelatan pernikahan. Dia pun menjadi sebuah simulakrum, kesadaran yang lahir karena berbagai pemahaman atau ideologi sebagai wujud simulasi tadi. Momen romantis itu sedemikian pentingnya sehingga perlu diatur dan disimulasikan agar tampil sebagai pencitraan diri pasangan yang hendak menikah. [ ]

Lima Belas Tahun Silam

Tinggalkan komentar

Bukannya saya tidak menyukai Gerindra atau mempercayai Hanura, namun entah kenapa saya belum juga bisa memaafkan Prabowo dan Wiranto yang turut andil atas sejarah kelam di negeri ini lima belas tahun silam.
Bukannya saya tak mendukung pemilu bersih, namun entah kenapa saya belum juga bisa melepaskan kesedihan yang saya rasakan saat memandangi kobaran api dan rakyat yang rakus menjarah toko-toko lima belas tahun silam.
Saya bukannya tak mencintai semangat demokrasi di negeri ini, namun entah kenapa saya belum juga bisa melupakan perlakuan yang dialami Munir dan Widji Tukul yang sebenarnya justru orang-orang yang menjunjung semangat demokrasi kita lima belas tahun silam.

Apakah saya harus melupakan semua itu? Apakah saya harus merelakan peristiwa-peristiwa itu biarlah menjadi sejarah masa lalu yang sebaiknya saya simpan di dalam peti lusuh nun di dalam relung pikiran saya?

“Perjuangan melawan kekuasaan, adalah perjuangan melawan lupa.” – Milan Kundera

“Lebih baik golput daripada tidak sama sekali.” – Fauzan R. Soedira

Bapak-bapak Kami Yang Duduk di Kursi Kekuasaan

Tinggalkan komentar

Bapak-bapak kami yang ada di kekuasaan sana
Dihormatilah kiranya kalian selalu
Datanglah segera kekuasaanmu
Jadilah apa yang kalian anggap waras dan bikin bumi ini damai
Berikanlah kami pada hari ini kebebasan untuk beribadah yang secukupnya
Dan ampunilah kewarasan kami yang mungkin lebih waras dari mereka yang memperlakukan ketidakwarasan kepada kami
Janganlah membawa kami pada kebingungan, tetapi lepaskanlah kami dari segala prasangka
Karena kalianlah yang saat ini punya kuasa, kekuatan dan mungkin bedil, sampai entah kapan.

PS: kami hanya ingin beribadah, bukan untuk mendirikan negara baru. Catat itu.

Pengamen abadi yang menyanyi ke terminal sunyi

Tinggalkan komentar

Debu menetes dari topi petnya, ketika lelaki muda itu bersenandung
Tentang harga bensin dan susu formula
Sepi menukik
Lagu kudus dari lelaki muda itu
menenteramkan siang

Ribuan malaikat
memadati angkot seraya bermain harpa
Berkatilah susu formula kami
di bumi seperti di sorga
Bisik ibu-ibu di sudut angkot
Lelaki muda itu lalu bermain harmonika
Alunan kudus itu bertaburan

Sepi berbelok ke sebelah kiri
Berikanlah kami bensin kami yang secukupnya
Sahut pak sopir seraya menghembuskan wangi tembakau

Lalu semuanya tersenyum ramah

Pahit

Tinggalkan komentar

Kau mengetuk pada sebuah
jarak yang pahit

Meninggalkan jejak nila pada tepian ruang yang sempit
Tidakkah kita pernah mengucapkan sebuah mantra yang indah
Saking seringnya sampai kita berdua lelah

Tapi kini hanya sebuah ketukan pahit
Yang kau tinggalkan

tanpa pamit

Bebas dari Jarak

Tinggalkan komentar

Hidup kita selalu terlibat dalam ruang.  Saat sedang berada di dalam kamar, sendirian, saya tak terlibat dalam suatu lingkungan sosial tertentu selain dengan barang-barang di dalam kamar saya. Dalam kamar itu aktivitas sosial saya nyaris nol, karena kegiatan saya mungkin hanya membaca buku, membersihkan tempat tidur atau mengepel lantai.

Ketika saya keluar kamar, saya mungkin akan berjumpa kakak saya, keponakan saya atau teman-teman kakak saya yang sedang bertandang. Bisa jadi saya akan mengobrol dengan mereka atau sekadar mengangkat alis atau tangan sebagai tanda sapaan. Bisa jadi saya hanya sekadar berlalu ke dapur tanpa menyapa siapapun, namun tindakan saya tersebut akan menyiratkan sebuah asumsi sosial tertentu. Saya akan dipandang angkuh enggan bergaul dan menyapa, atau saya akan tetap didiamkan karena dianggap memang sedang enggan berbasa-basi.

Saya kadang merasa, perlukah hidup saya berada dalam sebuah ruang? Baik dalam ruang kamar atau ruang di luar kamar. Tidakkah saya sesungguhnya bisa hidup tanpa keterlibatan dengan hal-hal lain di luar saya. Seolah saya menyatu dengan segala sesuatu di sekeliling saya, tidak ada jarak, tidak ada persentuhan apapun. Dalam sebuah ruang kita selalu dipisahkan oleh sebuah jarak. Di dalam kamar, ada jarak antara saya dan lemari pakaian saya. Sehingga ada suatu tuntutan bagi saya terhadap lemari pakaian tadi. Jarak inilah yang kadang bermasalah. Seakan saya harus memperlakukan lemari pakaian tadi dengan suatu tindakan tertentu. Saya jadi tidak bebas. Saya terikat pada sebuah keharusan untuk berhubungan dengan lemari itu, kendati sekadar memandangnya atau mengelap permukaannya agar tetap kinclong dan bersih dari debu. Di luar kamar, saya akan berinteraksi dengan manusia lain, terlibat dalam sebuah kesepakatan sosial tertentu. Ada keharusan untuk menyapa dan berbasa-basi. Ada keharusan untuk berkomunikasi dan bergaul agar tidak dicap makhluk asing.

Tapi rupanya hakikat saya memang tercipta untuk berada dalam sebuah ruang. Hakikat saya adalah menyikapi jarak tadi dengan suatu tindakan, entah itu secara moral, etis, sosial atau emosional. Saya berada dalam sebuah ruang bersama miliaran manusia lainnya, beserta miliaran benda lainnya. Mungkin ada waktunya saya akan terbebas dari jarak tadi, menyatu dengan segala di sekeliling saya. Jangan-jangan inilah konsep sederhana mengenai manunggaling kawula gusti yang dicetuskan Syekh Siti Jenar? Saat keberadaan saya menyatu dengan “gusti” atau “tuhan” atau segala yang jauh melampaui batas diri saya. Menyatu degan sesuatu di luar diri saya. Menyatu, terbebas dari jarak.

Terbebas dari jarak.

Menyatu.

Menyatu.

….

Puisi: dari sunyi ke bunyi

Tinggalkan komentar

Mungkin gara-gara secara tak sengaja, ketika mampir ke Toko Buku Gramedia, saya menemukan kumpulan sajak Sapardi Djoko Damono yang sudah lama saya cari-cari: Hujan Bulan Juni, sehingga semalaman ini saya mengingat kembali puisi-puisi. Saat menikmati secangkir Latte di Dunkin Donuts Gramedia sampai perjalanan pulang ke rumah, kerap bersliweran sejumlah untaian sajak yang pernah saya baca karya penyair yang saya minati: Goenawan Mohamad, Chairil Anwar, Joko Pinurbo dan tentu saja Sapardi.

Entah kenapa saya menggemari puisi. Mungkin di keluarga saya, hanya saya yang begitu serius menyukai bentuk sastra yang satu itu. Sejak SMA sambil tetap membaca Lima Sekawan dan Lupus, saya kerap menulis puisi. Salah satu puisi yang masih saya ingat adalah puisi tentang mendiang ayah saya. Kala itu saya belum berkenalan dengan penyair manapun secara intens. Hanya sekali-sekali membaca-baca Kerawang bekasi dan Diponegoro-nya Chairil Anwar. Barulah selepas SMA saya berkenalan dengan puisi-puisi Goenawan Mohamad dan melahap secara penuh buku Aku Bukan Binatang Jalangnya Chairil Anwar, lalu berturut-turut meminati karya-karya Sapardi dan Jokpin. Selain itu lingkungan keluarga saya tidak ada satu pun yang mewariskan kegemaran akan puisi. Ayah saya, entah apakah semasa dia hidup pernah membaca puisi bahkan menulisnya. Sepengetahuan saya yang hanya berasal dari ungkapan tante-tante saya, ayah saya itu “cross boy” yang hobi berantem. Sedangkan ibu saya, rasanya belum pernah saya melihat ibu saya membaca Chairil Anwar. Mungkin satu-satunya puisi yang dia pernah baca adalah kumpulan Mazmur Daud di Alkitab. Kakak-kakak saya? Mungkin satu dua ada yang diam-diam menulis puisi di buku hariannya, tapi secara terang-terangan terlihat sedang membaca buku kumpulan puisi, rasanya tidak pernah, atau seperti ibu saya hanya membaca Mazmur Daud dan nubuat para nabi. Di sekolah pun teman-teman dekat saya, rasanya, nggak ada yang hobi membaca dan menulis puisi, dan mungkin hanya saya yang sangat menggemari mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Sepulang dari Gramedia, di rumah, saya mendengarkan lagu-lagu dari Payung Teduh sambil mengerjakan konsep untuk kegiatan di gereja saya. Iramanya memang sesuai nama grup musik ini: sungguh teduh. Kembali kepala saya dipenuhi sajak, padahal di depan saya layar komputer jinjing menayangkan dokumen hasil Microsoft Word yang isinya jauh dari kata-kata sajak. Terngiang lirik dari Payung Teduh: sunyi ini merdu seketika…. sunyi ini merdu seketika….

Beberapa waktu silam, sudah lama sekali, saya pernah dengar ada seorang sastrawan yang menulis kalimat ini: “dari sunyi ke bunyi. Awalnya saya mengingat penulisnya adalah HB Jassin, maka saya cantumkan itu di status facebook saya. Ternyata saya keliru. Kutipan itu sesungguhnya berasal dari judul buku kumpulan esai tentang puisi karangan Hartojo Andangdjaja. (Semoga tak ada penyair kawakan yang menyadari kesalahan saya itu di facebook lantas memaki-maki kepongahan saya yang seakan hafal seluruh penyair di Indonesia dan kutipannya). Dan tampaknya Hartojo terilhami dari puisi “Para Pekerja Paksa” karya JJ Slauerhoff: Dan dilihat benar, dari jauh, dari semesta jagat,/Keduanya melakukan kerja yang sama:/Kuli-kuli menyeret beban dari kapal ke darat/ Para penyair menyeret beban dari sunyi ke bunyi bahasa. Tapi, ya sudahlah. Yang jelas melalui alunan lagu Payung Teduh itu serta kutipan Hartojo Andangdjaja itu, saya lantas kembali mengingat dan membaca lagi esei yang pernah ditulis Goenawan Mohamad: Potret Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang. Di situ ada tertulis: “anak muda itu telah berpindah dari ketenteraman sunyi seorang anak, kepada dunia penciptaannya yang gelisah.”

Mungkin juga karena sejak kecil saya terkenal sebagai anak yang penyendiri, anak rumahan karena jarang bergaul keluar rumah, terlambat bisa naik sepeda, dan hanya sekali-sekali main sepak bola. Bisa dibilang sejak SD teman-teman saya pun hanya sedikit, sejak SMP dan SMA kawan-kawan saya pun mungkin yang itu-itu saja. Saya lebih banyak bergaul dengan diri saya sendiri, memikirkan banyak hal sendirian. Maka itulah saya sudah terbiasa bergaul dengan kesunyian, padahal di tengah kesunyian itu dalam benak saya bising oleh banyak hal, meminjam kalimat GM “dunia penciptaannya yang gelisah”. Maka itulah saya kemudian sering menulis puisi. Barulah ketika saya aktif di kegiatan gereja dan mulai bekerja di kantor, saya lebih sering berinteraksi dengan banyak orang dan punya banyak teman, tapi tetap saya menggemari puisi.

Mungkin demikianlah hakikat puisi, di balik kesunyian dia dipaksa menghasilkan bunyi karena seringnya isi kepala dan batin ini bising oleh situasi di sekeliling. Para penyair bisa dibilang, adalah penyendiri yang berisik. Maka itu lahirlah kalimat-kalimat yang sesungguhnya tak lengkap. Seolah kagok untuk lengkap. Lantaran tak banyak kata yang bisa mewakili kesunyian itu. Padahal banyak hal ingin ia ungkapkan dalam gelisahnya hati dan batin. Berbeda dengan prosa yang akan mengisi satu halaman penuh, puisi kadang hanya mengisi sedikit ruang di satu halaman HVS. Bahkan sajak Sitor Situmorang hanya memuat satu baris kalimat: “Bulan di atas kuburan” untuk puisi yang dia beri judul “Malam Lebaran”. Kadang sunyi itu bisa merdu, kadang sunyi itu bisa riuh. Meminjam kutipan dari blog Jokpin: Saya ucapkan “Selamat berbuka puisi” untuk wilayah Depok dan sekitarnya.

Sisi Kelam si Manusia Baja

Tinggalkan komentar

Banyak yang kecewa dan mengeluh Man Of Steel menampilkan sosok Superman yang sangat berbeda. Konon salah satu ulasan di Rotten Tomatoes bilang, “Superman bukan Batman, dia seharusnya tidaklah kelam, murung tak ceria, dan berdebu.”

Tapi setiap kisah layak diceritakan dengan cara yang lain. Mungkin kini saatnya kita memberi kesempatan Hollywood menampilkan sosok superhero yang berbeda dari ingatan masa kecil kita. Mungkin inilah waktunya sosok manusia baja itu punya sisi yang kelam dan murung.

Bukankah hidup tak selamanya siang benderang, akan hadir malam yang kelam? Namun di antar keduanya tetap ada senja temaram yang meneduhkan.

20130615-100222.jpg

Panta Rhei dan Jalan di Jakarta

1 Komentar

Di suatu siang yang hambar, saat tumpukan pekerjaan kantor mulai terasa menjemukan, saya terlibat pembicaraan dengan teman sekantor saya bertema goal setting. Perbincangan mengenai penentuan tujuan hidup itu awalnya saat kami membicarakan soal pengajuan kuliah di Universitas Terbuka yang belum disetujui bos saya. Saya pasrah dengan keputusan itu. “Ya, sudahlah. Biarin,” kata saya.
“Jangan gitu, usahakan tanya lagi. Kalo gak kuliah, gimana mau jadi direktur,” sahut teman saya.
“Ah,” saya bilang, “gua gak pernah berhasrat jadi direktur. Bahkan gua gak pernah berhasrat jadi apa-apa.”
“Ih, gimana, sih, jadi orang gak punya tujuan gitu,” hardik teman saya. Lantas saya mulai berargumen bahwa saya nggak mau samaan kayak orang-orang, pingin beda. “Masa semua orang harus punya tujuan hidup?” tanya saya beralasan. “Nggak punya goal setting aja gua bisa kerja di sini,” lanjut saya sombong, maksudnya bisa bekerja di sebuah anak perusahaan rokok besar di negeri ini. Sambil mencibir, teman saya itu tetap tersenyum lebar.

Perbincangan sederhana dan sambil lalu itu mendadak melintas kembali saat saya sedang memandangi kemacetan gerbang tol Cililitan suatu pagi. Saya berpikir mengenai goal setting. Itu ibarat menelusuri jalan-jalan di Jakarta. Sejak awal kita sudah tahu tujuan kita: kantor. Lalu kita mulai memilih naik bus berongkos lebih ringan namun berdesak-desakan, dan sumpek atau memilih naik taksi yang akan berkali lipat mahalnya namun nyaman. Kendati begitu kadang rute yang diambil tetap sama, masuk jalan tol, macet atau memilih jalur bukan tol akan terkena macet pula. Atau kalaupun sudah terjebak di jalan tol, bisa keluar tol dan memilih jalur alternatif. Namun ujung-ujungnya kita tetap mengarah pada tujuan awal: kantor. Nggak mungkin kita memilih tujuan lain, ke Ancol, misalnya. Kecuali kalau memang niat bolos. Namun biasanya kita tetap pada tujuan awal, walaupun berbagai perubahan terjadi sesuai kondisi. Kalau pun suatu ketika tersesat, banyak penunjuk arah yang akan mengarahkan kita ke tujuan kita.

Begitu juga dengan orang yang punya goal setting tadi. Sejak awal dia sudah menetapkan tujuan hidup: jadi direktur, misalnya. Berbagai jalan pun dia tempuh. Mungkin kuliah di manajemen sampai bergelar master, kalau biaya tersedia ibarat punya duit banyak untuk menumpang taksi yang nyaman. Kalau dana belum cukup, bekerja dulu dari posisi paling bawah, meniti karir pelan-pelan ibarat menuju kantor dengan berganti-ganti jenis angkutan: naik kereta, lalu angkot, lalu ojek. Bila sudah cukup biaya, barulah kuliah sambil bekerja. Presiden Direktur di kantor saya mengawali karirnya di sebuah kantor perbankan sebagai operator foto copy yang khusus memperbanyak dokumen-dokumen kantor.

Kendati melewati berbagai jalan, yang kadang macet, kadang harus memutar, kadang saat mengambil sebuah keputusan berharap akan lancar jaya namun nyatanya tetap tersendat, orang seperti ini akan tetap pada tujuannya: menjadi direktur. Ada visi, ada misi. Kalau pun tersesat, mereka tetap berkemauan keras, belajar dari kesalahan dan bangkit untuk terus menggapai tujuan.

Sementara, orang seperti saya, yang entah jumlahnya ada berapa di dunia ini, tentu punya cara tersendiri dalam menjalani hidup ini. Saya secara tiba-tiba juga teringat salah satu ucapan Heraklitos yang terkenal itu: Panta Rhei atawa segala sesuatu mengalir. Terbayang dalam benak saya sebuah sungai. Saya mengikuti saja alirannya, tak pernah menetapkan akan kemana dan berhenti di mana, ujung-ujungnya tentu saja bermuara di laut, bersatu dengan ombak dan luasnya samudera. Di sepanjang aliran barangkali saya akan menemukan kejutan-kejutan kecil, mungkin akan berhenti sejenak tersangkut sampah yang bau, atau bahkan bakal melewati pemandangan yang indah di tengah hutan yang dipenuhi kehijauan, walau itu hutan bambu sahaja.

Mungkin saja filosofi Panta Rhei tak seperti yang saya gambarkan itu. Namun konsep mengikuti sungai mengalir itulah yang sejauh ini terasa saya jalani. Sejak awal saya tak pernah berani bermimpi jadi apapun. Saya biarkan saja hidup saya berproses mengikuti hembusan masa. Di tengah aliran itu tentu saja saya sering menjumpai kejutan-kejutan kecil. Dengan ijazah SMA tak pernah terpikirkan saya akan bekerja di sebuah perusahaan yang berkembang pesat dan bertahan di situ selama lebih dari dua belas tahun. Bahkan sempat dua tahun menjadi salah satu kepala bagian di situ, memimpin sebuah proyek bernilai miliaran, keliling Indonesia dibayari kantor, sempat mencicipi menginjakkan kaki ke luar negeri, mondar-mandir Singapur beberapa kali dan semuanya, seperti saya bilang, atas biaya kantor. Dan tak pernah pula sejak awal saya berpikir suatu saat bakal bekerja di sebuah perusahaan besar di Industri rokok, yang gedungnya ada jam digitalnya yang sebelumnya hanya saya lewati sahaja dan saya pandangi jam raksasanya itu saat melewati tol cempaka putih, melakukan pekerjaan yang menjadi hobi saya: menulis artikel dan mendesain grafis.

Dalam mengikuti aliran itu saya pun tak pernah terbayang suatu waktu terlibat aktif di pelayanan gereja sampai berskala nasional, dipercaya menjabat sebagai sekretaris dewan pemuda, mengurusi kegiatan pemuda sesepertiga Indonesia, berkeliling Indonesia lagi, dibiayai gereja pula (kadang harus saweran juga dengan anggota yang lain, sih).

Saya tak pernah berusaha keras dalam mencapai sesuatu. Kalau menemui situasi sulit, saya selalu berpikir suatu saat situasi ini akan saya lewati dengan suatu cara yang mungkin tak pernah saya pikirkan sebelumnya. Bisa esok atau minggu depan, saya tak pernah terlalu memikirkannya. Pasti akan selesai suatu waktu nanti.

Di sampung itu, berbeda dengan orang-orang yang suka menetapkan goal setting, yang suatu saat setelah mencapai tujuannya akan berhenti di situ, menetap di situ, dan atau akan menetapkan goal setting baru: menjadi presiden, misalnya. Akan halnya saya, mungkin akan terus mengikuti aliran sungai, tak pernah berhenti di suatu titik, menemukan kejutan-kejutan baru, yang menyenangkan atau yang menjengkelkan. Terus mengalir, sampai berujung di sebuah muara, bertemu dengan lautan, berpelukan dengan ombak, bersatu dengan samudera luas, bersama semesta. [ ]

I’m too old for this (?).

5 Komentar

I’m 37 years old and I was fall in love with this girl. over several years we’ve been close friend. Yeah, just friend, actually.

And when I told her that I loved her, care about her so much… she just wanna keep this between friends… no more than that.

You think, I’m too old for that?
You think, I should stop it and being realistic?

Kini Mereka Punya Nama

Tinggalkan komentar

Poster Rectoverso without SoundtrackDi film itu, tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen Dewi Lestari jadi punya nama. Kecuali “Malaikat Juga Tahu”, empat kisah dalam kumpulan cerpen bertajuk Rectoverso itu memiliki tokoh-tokoh yang hanya dipakai dengan kata ganti orang pertama, kedua atau ketiga. Kalaupun ada sebutan lain tertulis “perempuan itu” atau “lelaki itu”. Di kisah “Malaikat Juga Tahu”, nama yang ada pun hanyalah “abang” dan “bunda”.

Seperti kita tahu, lima dari sebelas kisah dalam novel Rectoverso diangkat ke layar lebar secara omnibus oleh lima sutradara cewek yang juga sering malang melintang sebagai aktris: Happy Salma, Rachel Maryam, Cathy Sharon, Olga Lydia dan Marcella Zalianthy. Kelima kisah itu dijahit di meja editing sebagai satu kesatuan film, dan bukan dibuat secara terpisah layaknya potongan cerpen yang dijilid menjadi satu roll film, seperti Cinta Setaman atau Jakarta Maghrib. Jadi separuh cerita “Malaikat Juga Tahu” lalu lanjut dengan adegan dari kisah-kisah lainnya, seterusnya begitu.

Kalau di Rectoverso versi buku setiap tokoh tak kita ketahui namanya, di film kita jadi tahu masing-masing nama dari tokoh-tokoh itu. Reigi dan Amanda dalam Curhat Buat Sahabat, Leia dan Hans dalam Malaikat Juga Tahu, Senja dan Panca dalam Firasat, Al dan Raga dalam Hanya Isyarat, Saras dan Taja dalam Cicak di Dinding. Dari segi kualitas, Rectoverso lebih lumayan dibanding Perahu Kertas. Setiap adegan mengalir lancar, sinematografi yang ditampilkan pun apik. Artinya, Rectoverso versi layar lebar termasuk karya yang layak diapresiasi.

Rasanya lengkap sudah hibrida Rectoverso karya Dewi Lestari ini. Setelah format buku dan CD berisi sebelas lagu tentang kisah-kisah di buku, kini dibuat versi audiovisual dalam format film. Dan bisa dibilang karya-karya Dewi Lestari yang memakai nama pena Dee ini seperti jadi rebutan untuk divisualisasikan. Setelah sukses dengan Perahu Kertas yang dibikin dua bagian itu, lalu Rectoverso dan akan datang satu noveletnya Madre akan pula diangkat ke layar bioskop. Entah tetralogi Supernova akankan naik ke layar bioskop pula, atau salah satu cerpennya: Filosofi Kopi.

Pemilihan lima kisah dari sebelas kisah di buku, rasanya cukup tepat karena memang kelimanya lebih mudah divisualisasikan dibanding enam kisah lainnya. Tapi tak menutup kemungkinan apabila film ini sukses, sekuel berikutnya akan mengangkat enam kisah lainnya. Siapa tahu, mungkin hanya malaikat yang tahu. [ ]

Babu, Bibi, Mbak, Pembantu, Maid dan lain sebagainya….

1 Komentar

000K051XDOMAda sejumlah sebutan untuk pembantu di rumah. Ada yang bilang “babu”, kemudian belakangan ada yang manggil “bibi”, padahal bukanlah kakak atau adik kandung papa-mamanya. Terus, akhir-akhir ini bahkan ada yang menyebutnya “mbak”, padahal mungkin usianya jauh lebih muda dari dirinya. Yang lebih beringgris-inggris menyebutnya “maid”. Akan tetapi, kalau kita sedang kesal dengan sang pembantu tadi, kita tak lagi menyebutnya “mbak” atau “bibi”, tapi langsung saja menyebut bahasa okemnya: “pembokat”.  “Duh, ini aer kenapa lupa dimatiin, ya?. Disangkanya beli aer gratis apa? Dasar pembokat!” Demikian salah satu bunyi status update  teman saya di facebook.

Kenapa bisa terjadi perbedaan sebutan itu untuk situasi yang berbeda pula?

Tulisan mengenai penggunaan kata yang berbeda-beda untuk para pembantu rumah tangga ini sempat dibahas oleh Qaris Tajudin di kolom Bahasa Majalah Tempo. Menurut Qaris, penggunaan berbagai macam sebutan untuk pembantu itu dianggapnya ambigu. “Di satu sisi kita tak ingin dianggap merendahkan, tapi di sisi lain kita ingin selalu dianggap berada sekian tingkat di atas pembantu,” tulis Tajudin.

Dulunya, kita memberi sebutan “babu”. Namun karena dianggap merendahkan, kita mengubahnya menjadi “bibi”, tapi tentu saja kita tak bisa serta merta memanggilnya “tante”, walau artinya sama. Ah, sebutan “tante” terlalu keren untuk seorang pembantu. “Bibi” saja sudah cukup. Di beberapa tempat ada yang menyebutnya “mbok”, yang artinya sama dengan “ibu” karena mungkin usia pembantu itu lebih tua dan ada yang sudah berumur. Lalu, kenapa tidak kita panggil saja dengan sebutan “ibu”? Jangan, sebutan “ibu”, kata Tajudin, terlalu priyayi. Ketika belakangan banyak pembantu yang berusia muda, kita memanggilnya dengan sebutan “mbak”, yang bisa juga berarti “kakak”. Lalu, kenapa tidak sekalian saja kita panggil “kakak”. Sekali lagi, sebutan “kakak” masih terlalu tinggi untuk seorang pembantu. Jadi, cukup “mbak” saja. Artinya sama, tapi levelnya masih terasa di bawah kita.

Jadi, siapakah orang yang kita sebut dengan banyak panggilan tadi? Dia yang setara dengan kita, karena dia sama-sama manusia yang perlu bekerja dan perlu penghasilan? Atau dia yang derajatnya, yah, sedikit lebih rendahlah dari kita, karena kita membayarnya untuk jasa “bantuan” di rumah tangga kita?

Banjir Jakarta dan Click Activism

Tinggalkan komentar

5d0ffe1d725fe61a2d240e345de230af

Tak lama setelah bencana banjir melanda Ibukota, beberapa social media semisal Facebook, Twitter maupun Path turut kebanjiran status tentang itu. Ada yang isinya sekadar sebuah simpati, ada yang isinya liputan pandangan mata, foto-foto, informasi mengenai dibentuknya posko bencana dan sejenisnya. Tak jarang pula ada yang isinya salah-menyalahkan. Ada yang menyalahkan Jokowi-Ahok yang tak becus mengurus Jakarta, menyalahkan mereka yang hobi buang sampah sembarangan, dan seterusnya.

Tahun 2004 maupun 2007 Facebook dan Twitter tentu belum seramai sekarang. Tahun 2004 saat Tsunami melanda Aceh serta Banjir Jakarta tahun 2007, sangat jarang kegiatan sebar menyebar informasi melalui social media. Yang ada hanya tatapan yang tak henti pada layar televisi dan lembar koran atau majalah. Fenomena sebar menyebar informasi lewat social media ini belakangan diberi label Click Activism.

Bukan cuma informasi saja yang disebarkan melalui social media tadi. Curhat soal macet, soal Metromini yang melaju seenaknya, keluhan soal bos yang marah-marah melulu, turut pula mewarnai. Apakah ini adalah generasi yang kesepian, yang tak tahu harus curhat kemana lagi selain mengeklik tombol telpon selular maupun telpon pintar, berharap ada yang membaca dan merespons, memberinya komentar, dukungan dan sejenisnya? Bahkan hal-hal yang sangat pribadi yang semestinya bukan konsumsi publik pun tersebar di seantero dunia maya. Dan kita jadi tahu si anu lagi berantem ama si itu soal begituan. Dan kita jadi tahu si anu orangnya seperti itu melalui status update si inu. Bahkan kita jadi tahu bahwa bayi si anu akan minum susu jam berapa dan akan makan bubur merek apa jam berapa di mana. Maka, ruang publik pun jadi tak lagi dibatasi secara geografis. Kita yang di rumah, jadi tahu sebuah pertikaian keluarga nun di luar pulau sana, karena membaca sebuah status update beserta komentar-komentarnya.

Tentu belum lepas ingatan kita mengenai perseteruan Prita Mulyasari dengan sebuah rumah sakit ternama. Melalui Facebook, Prita mendapat dukungan dari berbagai-bagai kalangan karena curhatnya mengenai pelayanan rumah sakit yang mengecewakan itu. Melalui curhatnya di media sosial ini, Prita pun sempat bikin pihak rumah sakit kebakaran jenggot, yang bahkan membawanya ke pengadlan. Gerakan pencet memencet tombol untuk mencari maupun memberi dukungan ini pun sempat terjadi lagi ketika perseteruan Cicak Vs. Buaya beberapa waktu lalu, saat Bibit-Chandra sebagai petinggi KPK harus berhadapan dengan petinggi Polri.

Namun banyak kalangan menyangsikan Click Activism ini mampu melakukan perubahan secara signifikan. Tak ada yang berubah dalam kasus Prita, yang bahkan sudah sampai membawanya ke Mahkamah Agung. Prita sendiri konon ogah menyentuh-nyentuh lagi internet sebagai media curhat, kuatir justru mengganggu proses peradilan dan kasusnya. Tak juga ada perubahan kebijakan di tubuh KPK pasca dukungan yang masif terhadap Bibit-Chandra melalui social media ini. Beberapa menganggap gerakan ini sebagai sebuah “kepedulian alakadarnya”, “gerakan orang-orang latah” dan sejenisnya. Kendati banyak nada miring terhadap para penggila social media ini, ada juga kisah menarik ketika seorang anggota tentara yang tengah memarah-marahi seorang pengendara motor sembari mengacung-acungkan pistolnya, tertangkap kamera video lantas menyebarkannya melalui Twitter dengan tautan dari Youtube,  membuat serdadu tersebut memperoleh sangsi. Tengok pula perubahan yang dialami Briptu Norman yang iseng mengunggah video dirinya ke youtube. Dan masih banyak lagi kisah mengenai aktivitas social media ini yang mengubah nasib sejumlah orang.

Dan bencana banjir terjadi lagi, bahkan konon lebih dahsyat dari enam tahun sebelumnya. Akankah Click Activism yang membanjiri social media belakangan hari ini akan menyumbangkan sebuah perubahan atas bencana banjir di jakarta? Entahlah….

Bikin Pilim

2 Komentar

clapperboardl2_800wTahun 2012 lalu bisa dibilang adalah kesempatan saya bisa mencicipi proses pembuatan film (pendek). Sebelumnya saya memang punya niat bikin film. Buku-buku teknik membuat film pun saya baca. Sejumlah ide cerita sudah saya coba buat. Entah kenapa dulu-dulu itu tak kunjung kesampaian saya membuat pilim (meminjam istilah Mak Gondut dalam Demi Ucok).

Diawali dengan sebuah proyek pembuatan film untuk kebutuhan kantor. Salah satu departemen di kantor saya berniat membuat sebuah tutorial berbentuk video bagaimana merencanakan, melaksanakan sebuah event. Saya yang dianggap mengerti editing film serta beberapa kali mengambil video setiapkali ada ajang di kantor, dilibatkan dalam tim pembuatan video tutorial tersebut. Saat pertama kali diajak bergabung dalam tim itu, saya sudah merasa tertarik, walau sebenarnya bekal pengalaman pengambilan gambar serta proses pembuatan sebuah film hanya saya peroleh dari buku-buku yang saya baca tadi. Apa itu long shot, apa itu close up, eagle view dan sebagainya. Dari situlah pengalaman saya terjun langsung dalam sebuah proses pembuatan film. Di proyek ini saya sebatas bertugas mengambil gambar serta mengeditnya sampai pada hasil akhir. Naskah/script serta konsep isi seluruhnya dari departemen terkait. Kebetulan untuk proses editing saya sudah cukup menguasai akrena beberapa kali mengedit video.

Kesempatan kedua saat Pelayanan Kategorial Persekutuan Teruna (Pelkat PT) di gereja saya ikut serta dalam lomba pembuatan film pendek yang digelar oleh Pelkat PT Mupel GPIB Jabar 2. Lomba ini tergolong baru kali itu diadakan. Biasanya ada lomba debat, lomba vokal grup, lomba karya ilmiah, lomba pidato dalam bahasa inggris dan sejenisnya. Entah ide dari siapa sampai muncul jenis lomba membuat film pendek tersebut. Pengurus Pelkat PT di gereja saya meminta saya sebagai penanggung jawab di lomba pembuatan film pendek tersebut. Sampai dua minggu sebelum penyelenggaraan, kabar mengenai apa dan bagaimana lomba film pendek tersebut belum juga bisa saya dapatkan.  Sampai akhirnya juklak mengenai loma film pendek pun rampung. Isi cerita film yang diambil dari kisah-kisah perumpamaan Yesus di alkitab akan diundi kepada gereja-gereja yang diikutsertakan. Sesuai undian tersebut, gereja saya mendapat undian untuk membuat film mengenai Perumpamaan Tentang Talenta. Saya berpikir keras mengenai bagaimana mengemas film yang akan dilombakan itu. Dengan waktu yang mepet itu, saya pun mengambil jalan pintas. Film ini saya buat dalam bentuk film bisu, meniru film-film Charlie Chaplin. Sebenarnya jalan ini saya ambil menghindari para pemeran menghafal dialog, yang dalam tempo kurang dari dua minggu waktu yang tersisa, agak mustahil ada waktu untuk reading dan menghafal. Terlebih para pemerannya ini berasal dari anak layan yang belum tentu bisa setiap waktu dilibatkan. Sehingga berbekal konsep film bisu tadi, saya pun menyusun cerita dan naskahnya. Karena ini film bisu, maka saya pun mengoptimalkan adegan demi adegan agar bisa berbicara dengan sendirinya. Untungnya, cerita ini sudah sangat familiar di kalangan anak-anak layan maupun kalangan umat Kristen.

Syuting digeber dalam waktu tiga hari. Jumat malam, Sabtu seharian dan hari minggu seharian juga. Jumlah pemain pun tidak terlalu banyak sehingga nggak terlalu susah mengatur pemain. Lokasi syuting pun sempat berubah-ubah, sampai akhirnya diputuskan meminjam rumah salah seorang rekan pelayan sebagai kediaman Nyonya Besar (versi alkitab adalah Sang Tuan), meminjam sebuah warung klontong langganan rekan pelayan sekaligus pemilik warung kami minta sebagai figuran serta sebuah kios buah-buahan yang juga kami pinjam, dengan kompensasi, kami membeli beberapa buah-buahan yang dijual di situ. Maka jadilah sebuah film pendek yang diberi judul Kisah Tiga Pelayan. Durasinya kurang lebih lima belas menit. Hanya berisi adegan-adegan bisu, hitam putih dan speed yang dipercepat, layaknya film Chalie Chaplin. Di lomba tersebut, gereja kami berhasil meraih juara III. Yang mau melihat hasilnya silakan mencarinya di youtube dengan keyword judul film tadi.

Tak lama berselang, untuk kebutuhan Paskah Pelkat PT, lagi-lagi seksi acaranya berniat memasukan cuplikan video dalam format acara Paskah yang disusun. Dan lagi-lagi, saya pula yang diminta membuatkan filmnya. Bentuknya liputan berita tentang penangkapan Yesus, penyangkalan Petrus sampai Yesus bangkit. Karena waktunya pun mepet, untuk menyamarkan kualitas yang mungkin seadanya, saya mengusulkan membuat film dengan format founding footage. Jadi adegan-adegan itu berasal dari potongan-potongan video amatir yang disusun menjadi sebuah rangkaian cerita. Film yang memakai format seperti ini biasanya dipakai sejumlah film horor. Yang kita kenal baru-baru ini adalah Paranormal Activity yang sudah sampai dibuat 4 sekuel. Lalu, pernah pula dulu ada film The Blair Witch Project. Dan pada tahun 2012 itu pula ada sebuah film berjudul Chronicle, yang juga memakai format ini. Maka, syuting yang kami lakukan hanya satu hari itu, dibuat seolah-olah berbentuk video amatir mengenai kisah penyaliban Yesus, dimulai saat Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani, sampai Yesus bangkit.  Syuting kami lakukan di kuburan dekat rumah saya, serta rumah rekan pelayan yang juga kami pakai saat membuat film Kisah Tiga Pelayan. Untuk film ini, kami bahkan tak sempat membuat naskahnya, semua serba spontan. barulah pada saat editing, saya percantik dengan menampilkan banner judul berita maupun logo stasiun TV. Hasilnya adalah empat potongan berita yang berasal dari kamera video amatir, yang memang masih sangat amatir.

Terakhir, pembuatan film pendek dilaksanakan secara tidak sengaja. Awalnya, untuk kebutuhan natal Pelkat PT, saya diminta membuat drama natal yang mengadaptasi salah satu renungan Pdt. Andar Ismail berjudul Kalau Sekarang Yesus Lahir di Jakarta. Maka saya pun membuat naskahnya serta mengadaptasi renungan tersebut dalam bentuk sebuah drama musikal. Lantas, karena satu dan lain hal, akhirnya drama musikal tersebut tidak jadi ditampilkan di natal Pelkat PT, sehingga saya pun mengusulkan mengganti saja drama musikal tadi ke dalam bentuk film pendek. Ide ini disetujui. Naskah drama musikal tadi pun saya sulap ke dalam naskah film dengan perubahan kecil pada isi ceritanya serta perubahan pada judul. Yang tadinya berjudul “Kalau Sekarang Yesus Lahir di Jakarta”, saya ganti menjadi “Kalau Sekarang Yesus Lahir di Depok”. Untuk kali ini dari segi kualitas dan durasi, film pendek ini lebih baik dari Kisah Tiga Pelayan karena formatnya betul-betul serius seperti pembuatan film profesional. Ada penataan suara, ada penataan cahaya, ada pengurusan wardrobe dan properti maupun set. Para pemain pun lebih banyak dari film sebelumnya, dialog pun ada. Sehingga ketelisut ucapan saat melakukan dialog pun sering terjadi. Karena waktu persiapannya lebih panjang, sekitar satu setengah bulan, jadi kami masih sempat melakukan reading, latihan blocking dan sebagainya. Memang ada beberapa adegan yang pada akhirnya tidak kami ambil karena waktu persiapan yang sudah mendekati hari H, sementara ada kesibukan menjelang natal dan sebagainya. Namun, hasilnya tidak mengecewakan. Sayangnya, saya belum sempat mengunggahnya ke youtube, karena filenya masih tergolong besar, di atas 1 GB. Harus saya perkecil agar bisa cepat mengunggahnya.

Dari keempat proses pembuatan film itu, saya pun akhirnya mengerti betapa ribetnya membuat film itu. Saya yang biasanya hanya tinggal menonton adegan demi adegan tertayang di depan saya, mulai mengetahui bahwa bisa saja satu menit adegan dalam film itu menyita kerja keras dari para kru film. Adegan demi adegan yang mengalir lancar di tayangan di depan saya, ternyata memerlukan sebuah proses yang panjang dan kadang sulit. Akan tetapi, saya malah merasakan keasyikan tersendiri saat menggarap keempat film pendek tadi. Syuting sejak siang sampai larut malam tidak terasa melelahkan karena seluruh kru dan pemain yang terdiri dari rekan-rekan sepelayanan saya sendiri menjalaninya dengan rileks dan penuh semangat. Saya pun sedikit mengerti kenapa Indonesia kini bergairah lagi memunculkan karya-karya film, karena para sineas yang tergolong muda dan produktif itu menjalaninya dengan penuh passion (saya belum bisa menemukan kata yang cocock dalam bahasa Indonesia untuk ini).

Tampaknya saya mulai kecanduan bikin pilim….

Older Entries